Humaniora kemarin, masih soal bangkai babi hingga turun kelas BPJS-Kes

id Humaniora kemarin

Seorang warga berjalan mendekati beberapa bangkai babi yang ditemukan di aliran Sungai Bederah Medan, Jumat (8/11/2019). ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus/aa. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah isu humaniora baru mencuat ke permukaan pada Jumat (8/11), namun justru perhatian publik belum banyak bergeser dari persoalan naiknya iuran BPJS-Kesehatan (BPJS-Kes) hingga kematian massal babi di Sumatera Utara.

Penetapan enam pahlawan nasional 2019 oleh Presiden Joko Widodo menjadi salah satu berita humaniora penting kemarin, selain berita peristiwa seperti Pasar Ngunut di Tulungagung, Jawa Timur, yang terbakar.

Namun berita-berita terkait kematian massal babi hingga kenaikan iuran BPJS-Kes yang mendapat perhatian besar sebelumnya masih diminati, seperti:

Terkait bangkai babi, Dinkes Medan imbau warga tak gunakan air sungai

Terkait temuan ratusan bangkai babi di Sungai Bederah Medan, Sumatera Utara, masyarakat diimbau untuk tidak memanfaatkan air sungai terutama untuk keperluan konsumsi sehari-hari.

Pernyataan dari Dinas Kesehatan Kota Medan selengkapnya dapat dibaca di sini.

Peserta BPJS mandiri di Kulon Progo mulai menurunkan kelas kepesertaan

Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan mandiri di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai menurunkan kelas kepesertaan setelah adanya kebijakan kenaikan premi yang akan berlaku mulai Januari 2020.

Berapa besar penurunan kelas kepesertaan BPJS-Kes di Kulon Progo? Beritanya dapat dibaca di sini.

 

Gempa Pacitan bukti Sesar Grindulu masih aktif

Wilayah Kabupaten Pacitan dan sekitarnya diguncang gempa bumi magnitudo 3,1 pada Kamis (7/11) malam membuktikan bahwa Sesar Grindulu masih aktif.

Lalu bagaimana risikonya terhadap masyarakat, baca selengkapnya di sini.

 

Ribuan babi mati di Sumut terindikasi African Swine Fever

Ribuan ternak babi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mendadak mati diduga tidak hanya terjangkit virus Hog Cholera atau Kolera Babi, melainkan juga terindikasi virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

Bagaimana virus ini menyebar, simak beritanya di sini.

Baca juga: Pejuang literasi di gang-gang kecil
Baca juga: Temuan bangkai babi, Dinkes belum pastikan berdampak bagi kesehatanBaca juga: Mentan akan bentuk unit khusus tanggulangi virus Demam Babi Afrika


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar