BMKG sebut tidak ada indikasi El Nino kuat pada 2020

id El Nino,Anomali cuaca,Potensi El Nino,BMKG

Foto arsip. Petugas mengamati alat pengukur intensitas sinar matahari (Campbell Stokes) di laboratorium terbuka BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Serang, di Serang, Banten, Jumat (30/8/2019). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/ama.

Jakarta (ANTARA) - Hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan pada 2020 tidak terindikasi akan terjadi El Nino kuat.

"Hal ini menandai tahun 2020 diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Hasil prediksi BMKG tersebut juga sama dengan NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) yang memprediksi hasil serupa.

Baca juga: BMKG: Suhu panas masih melanda Indonesia hingga 38 derajat

Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya). Musim kemarau umumnya akan dimulai pada April-Mei hingga Oktober 2020.

Sedangkan wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari-Maret 2020, sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut.

Dwikorita menambahkan, untuk 2019, El Nino lemah telah berakhir pada Juli lalu, dan kondisi netral ini masih berlanjut hingga di penghujung tahun.

Baca juga: BMKG sebut angin kencang Batu akibat pemanasan kebakaran lahan

Fenomena yang saat ini sedang terjadi, adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26-27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

"Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemuduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada bulan November, kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang sudah sejak pertengahan Oktober 2019," katanya.

Baca juga: BMKG duga angin kencang di Merapi dipicu aktivitas vulkanik
 

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar