PBNU tegaskan santri berperan besar isi kemerdekaan

id Hari santri,PBNU,Pesantren, said aqil,radikalisme

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan para santri yang tersebar di seluruh Tanah Air memiliki peranan besar dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.

"Peran santri di Indonesia ini sangat besar, sangat jelas sebelum setelah dan sekarang saat mengisi kemerdekaan," kata dia menanggapi peringatan Hari Santri 2019 di Gedung PBNU Jakarta, Senin.

Menurutnya, selama ini santri di Tanah Air juga memiliki peranan dalam hal mengisi peradaban maupun budaya untuk memajukan bangsa dan negara. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan pondok pesantren.

Bahkan, KH Said Aqil Siradj mengklaim pondok pesantren lebih unggul dari lembaga-lembaga yang lainnya. Alasannya, pesantren mempunyai kapital sosial yang luar biasa serta memiliki kebijaksanaan lokal, etika, niat dan visi misi ke depan yang baik.

Baca juga: PBNU instruksikan ziarah kubur sambut Hari Santri

Oleh karena itu, ia menyakini para santri yang menimba ilmu di pondok pesantren tidak akan melakukan perbuatan menyalahi aturan dan norma sosial termasuk unjuk rasa.

"Tidak mungkin santri demo, tidak mungkin santri menggerakkan adu domba, tidak mungkin santri menyebarkan ujaran kebencian," katanya.

Terkait peranan santri dalam keikutsertaan menangkal radikalisme dan terorisme, Said mengatakan hal itu dilakukan melalui pendidikan, ceramah, pemahaman agama dan lain sebagainya.

Menurutnya, melalui jalur pendidikan serta pemahaman agama yang benar maka tindakan kekerasan, radikalisme hingga terorisme dapat diatasi di Tanah Air.

Namun, untuk memberantas radikalisme dan terorisme peran pemerintah diutamakan sekali melalui aparat keamanan.

"Kalau memberantas teroris itu ya Densus, kalau pesantren itu (pemahaman) kontra-radikal. NU itu kontra-radikalisme," ujar dia.

Baca juga: Komaruddin Hidayat: Pesantren ciptakan keberagaman moderat

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar