Dinkes Ambon tunda pemberian obat filariasis bagi pengungsi

id Kaki gajah,obat filariasis

Petugas Puskesmas Sepang saat memberikan obat pencegahan penyakit kaki gajah kepada masyarakat Kelurahan Sepang Simin, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, baru-baru ini. ANTARA/HO-Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Mas

Ambon (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Ambon menunda pemberian obat filariasis (kaki gajah) bagi para pengungsi korban gempa bumi.

"Pemberian obat kaki gajah dimulai sejak 1 Oktober, tetapi kita menunda pemberian obat bagi para pengungsi, sambil melihat kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di pengungsian," kata Kepala Dinas Kesehatan kota Ambon, Wendy Pelupessy, Senin.

Ia menyatakan, masyarakat yang tinggal sementara di lokasi pengungsian tidak diberikan obat kaki gajah, terutama bagi masyarakat yang sementara sakit.

"Kita mengantisipasi jangan sampai jika masyarakat yang sementara sakit minum obat ini, mereka menganggap obat kaki gajah yang menyebabkan terjadinya infeksi dan sebagainya," katanya.

Baca juga: Waspadai filariasis yang ditularkan oleh semua jenis nyamuk

Wendy menjelaskan, tahun 2019 merupakan tahun kelima pelaksanaan gerakan eliminasi kaki gajah (Belkaga), karena obat ini harus diminum selama lima tahun.

"Pemberian obat filariasis dilakukan setiap bulan Oktober tahun berjalan selama lima tahun, tahun 2019 merupakan tahun kelima pelaksanaan," katanya.

Sasaran pemberian obat filariasis katanya, seluruh masyarakat mulai dari usia 2 hingga 70 tahun, dengan tujuan untuk memutuskan rantai penularan kaki gajah.

Sasaran pemberian obat kepada anak usia dua tahun ke atas, kecuali ibu hamil dan warga yang mengalami sakit berat.

Baca juga: Memberantas penyakit kaki gajah

Saat ini katanya, penderita kaki gajah kronis di kota Ambon sebanyak empat orang yang rutin menjalani program pengobatan massal.

Secara kumulatif pada 2006 hingga 2013 terdapat 171 kasus dengan jumlah kasus kronis 11 penderita.

"Jumlah penderita tersebut sudah ada yang meninggal dunia dan berpindah tempat tinggal sehingga pada 2019 terdapat empat orang penderita," ujarnya..

Ditambahkannya, kasus kaki gajah bersifat menahun atau kronis jika tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran di bagian tertentu dan merupakan salah satu penyakit yang sangat menular.

"Pembesaran terjadi di tangan dan kaki dan bagian tertentu yang secara kasat mata bisa terlihat, tetapi bisa menjadi penyakit yang menular," tambahnya.

Baca juga: 236 kabupaten-kota endemis kaki gajah
Baca juga: Kemenkes sebut minum obat paling efektif cegah kaki gajah

Pewarta : Penina Fiolana Mayaut
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar