"Kampus Sehat" untuk menjaga bonus demografi Indonesia dari penyakit

id logo kemenkes

Kementerian Kesehatan RI (Ist)

Jakarta (ANTARA) - Program Kampus Sehat yang diluncurkan dan diuji coba pada empat kampus hari ini oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dimaksudkan untuk menjaga sumber daya manusia pada masa bonus demografi Indonesia nanti bisa terbebas dari penyakit.

"Kita 2030 hingga 2035 berharap dapat bonus demografi. Yang kita harapkan bukan lulusan cerdas secara akademik saja tapi juga sehat secara fisik, orang yang sehat tentu lebih produktif," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie di Jakarta, Jumat.

Program Kampus Sehat adalah perluasan dari program Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang telah dulu dilakukan oleh Kemenkes di desa-desa seluruh Indonesia.

Baca juga: Kemenkes RI ajak masyarakat Bangka dukung Poskesremen

Cut Putri mengemukakan hingga saat ini sudah terdapat sekitar 55 ribu Posbindu yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemenkes menargetkan untuk membuat minimal satu Posbindu pada satu desa.

Posbindu tersebut merupakan langkah yang dilakukan Kementerian Kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) di masyarakat dengan tujuan menekan angka penderita PTM tersebut melalui pemeriksaan kesehatan

Pemeriksaan kesehatan di Posbindu adalah minimal pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, dan gula darah. Setelah itu kader di Posbindu akan memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap kondisi kesehatannya.

Baca juga: Kemenkes katakan perubahan iklim pengaruhi kesehatan manusia

Kementerian Kesehatan mengujicobakan program Kampus Sehat pada lima perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Universitas Andalas, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Cut menjelaskan bahwa perubahan tren penyakit tidak menular saat ini mulai terjadi gejala pada usia 10 sampai 14 tahun. Oleh karena itu intervensi di kalangan mahasiswa diperlukan untuk mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular.

"Kita intervensi dari perubahan perilaku menindaklanjuti pengelolaan faktor risiko dan edukasi lain, supaya nanti yang sudah lulus bukan hanya cerdas akademik tapi juga sehat fisiknya. Itulah tujuan kita agar bangsa ini saatnya bonus demografi betul-betul punya SDM yang unggul," jelas dia.

Baca juga: Harapan hidup orang Indonesia rata-rata 71,4 tahun, sebut Kemenkes

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar