Willy tegaskan politik gagasan NasDem bukan hanya gimik

id Partai NasDem, politik gagasan, bukan gimik

Ketua DPP Partai NasDem Bidang Komunikasi Media dan Publik, Willy Aditya saat menjadi pembicara dalam diskusi terbuka bertajuk "Politik Gagasan pada Era Post Ideologi". ANTARA/HO-Partai NasDem

Jakarta (ANTARA) - Ketua DPP Partai NasDem Bidang Komunikasi Media dan Publik Willy Aditya menegaskan bahwa politik gagasan Partai NasDem bukan hanya gimik belaka, melainkan merealisasikan tujuan pembangunan dan kemajuan bangsa.

"Politik gagasan itu tak sekadar instalasi kemewahan, bukan hanya gimik," ujar Willy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat.

Politik gagasan dinilainya bukan sekadar instalansi kemewahan dalam demokrasi. Berdirinya Republik Indonesia diawali melalui politik gagasan yang dibawa oleh para founding fathers bangsa, baik Soekarno, Tan Malaka, maupun Sutan Syahrir.

Willy dalam acara diskusi terbuka bertajuk "Politik Gagasan pada Era Post Ideologi" mengatakan bahwa esensi politik tidak hanya terus-menerus berbicara tentang kemenangan, tetapi sebaliknya politik justru harus merealisasikan tujuan pembangunan dan kemajuan bangsa.

Ia menyebut NasDem hadir untuk memberikan keadilan dan kebahagiaan kepada masyarakat.

"Sampai ke Gedung Senayan yang harusnya membicarakan kebijakan namun orang hanya bicara kemenangan. Hanya berpikir how to defend my position," ujarnya.

Diskusi yang digelar itu merupakan rangkaian dari persiapan untuk memeriahkan Kongres II Partai NasDem.

Baca juga: NasDem akan gelar Kongres II bahas kebijakan strategis

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengapresiasi konsep politik gagasan yang dikembangkan Partai NasDem, salah satunya karena hal tersebut membuat biaya politik lebih murah.

"Melalui politik gagasan yang tidak diterjemahkan secara intelektual, tetapi diterjemahkan melalui rencana aksi," katanya.

Menurut Yunarto, NasDem memiliki modal kuat untuk mengimplementasikan hal itu karena dalam Pilkada 2017, NasDem punya banyak perwakilan yang menjadi kepala daerah.

Perwakilan NasDem di daerah inilah, lanjut Yunarto, yang akan menjadi ujung tombak politik gagasan.

"Pertanyaannya, apakah bisa NasDem secara top down memaksa politik gagasan yang diyakini NasDem kepada para kepala daerah," ujarnya.

Jika itu berhasil, kata dia, hal tersebut akan lebih konkret daripada bicara mengenai ide.

Baca juga: NasDem sebutkan empat syarat bagi kandidat memenangi Pilkada 2020

Dosen ilmu politik Universitas Paramadina Djayadi Hanan menilai politik gagasan harus ditanamkan lebih komprehensif, seperti bagaimana NasDem memulai analisis praktikal tentang gagasan selama 3 tahun ke depan.

Pada tahun keempat dan kelima, partai bisa melihat gagasan apa yang diterima masyarakat.

Hal tersebut, kata dia, pertama memunculkan pertanyaan lebih awal tentang model gagasan yang bakal diterima masyarakat. Artinya, NasDem perlu menginventarisasi gagasan-gagasan apa saja yang dibutuhkan konstituen.

Kedua, bagaimana mengemas gagasan itu dalam rumusan yang lebih konkret. Misalnya, melalui kebijakan publik.

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar