Pakar sebut pengembangan agroindustri 4.0 berpotensi banyak risiko

id pakar agroindustri UB, universitas brawijaya, agroindustri 4.0, risiko agroindustri

Pakar sistem dan agroindustri Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Dr Imam Santoso (ANTARA/Endang Sukarelawati)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pakar istem dan manajemen agroindustri Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Dr Imam Santoso mengemukakan pengembangan agroindustri 4.0 dalam setiap aspek-aspeknya berpotensi memiliki banyak risiko, di antaranya penyusutan luasan lahan produktif.

"Faktor pertama risiko agroindustri 4.0 adalah menurunnya luas lahan pertanian produktif, yang belum diimbangi dengan program ekstensifikasi berupa penambahan lahan baru," kata Imam Santoso di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Risiko kedua, lanjut Imam, sistem produksi pertanian yang umumnya masih tradisional dan persoalan sosiokultural yang melingkupinya. Risiko lainnya, sistem penanganan panen dan pascapanen yang belum mendukung sistem panen terjadwal dan belum menjamin mutu hasil pertanian.

Risiko selanjutnya, sistem distribusi dan rantai pasok hasil pertanian serta produk agroindustri belum mendukung ketepatan dan kecepatan pemenuhan kebutuhan konsumen. Selain itu, sistem produksi agroindustri umumnya skala UMKM dengan keterbatasan sarana dan sistem produksi yang berimplikasi pada belum terjaminnya mutu produk, bahkan tidak mampu menjawab dinamika preferensi konsumen.

"Jika potensi risiko tersebut dianalisis dan dikelola dengan baik, agroindustri dapat dikembangkan dan memiliki daya saing. Pengembangan agroindustri 4.0 memiliki potensi untuk dapat membantu memberikan solusi atas sejumlah permasalahan tersebut," papar Imam yang juga Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB ini.

Menurut Imam, ada beberapa strategi yang mampu mengurangi risiko pengembangan agroindustri 4.0 dari perspektif kesisteman dan manajemen risiko, yakni penguatan sektor produksi pertanian dengan penerapan pertanian presisi (smart farming) guna memastikan hasil pertanian sesuai dengan kualitas yang diharapkan, keberlanjutan, dan memenuhi industri pertanian.

Strategi lainnya, pengembangan produk agroindustri yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa dihasilkan melalui rekayasa serta modifikasi atau bahkan proses kimia dengan presisi sangat tinggi, pengembangan sistem produksi agroindustri yang efisien, sesuai selera atau preferensi konsumen dengan bantuan teknologi cerdas.

Selain itu, pengembangan alat dan mesin pengolahan menggunakan sistem otomatisasi dan digitalisasi, penguatan rantai pasok digital agroindustri dengan berbagai instrumennya, sehingga dapat memastikan ketersediaan bahan baku dari sisi jumlah, kualitas dan ketepatan waktu.

Pengembangan kemampuan mengelola big data bagi UMKM agroindustri yang jumlahnya sangat besar dan menguatkan relasi kelembagaan antarhulu-hilir dengan prinsip saling menguntungkan dan saling menguatkan akan mendorong semua pihak untuk dapat berkembang dan memiliki daya saing tinggi.

Imam berharap beberapa strategi tersebut secara integratif mampu menghasilkan kondisi agroindustri yang sangat akurat atau presisi dari sisi proses produksi, meminimalisasi pemborosan penggunaan bahan baku, bahan pembantu dan bahan penunjang lainnya hingga level paling optimal.

Efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan penggunaan sumber daya manusia, mesin dan peralatan produksi, energi, dan air, peningkatan keseragaman produk yang dihasilkan kualitasnya dan terhindar dari kondisi produk yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan, serta meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan terhadap kondisi lingkungan.

"Agroindustri merupakan bagian penting dari pembangunan nasional dan berperan strategis dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian, bahkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di hulu (on farm), termasuk dalam penyerapan jumlah tenaga kerja, berkembangnya jumlah dan jenis produk yang dihasilkan, peningkatan segmen pasar yang makin luas, dan tumbuhnya industri terkait," papar Imam.

 

Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar