BNN : Waspadai peredaran narkoba murah yang bisa dibeli anak

id Narkoba murah,narkoba jenis baru, narkoba untuk anak,narkoba anak

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Heru Winarko. (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Bandung (ANTARA) - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Heru Winarko mengingatkan saat ini narkoba golongan rendah dengan harga murah yang berjenis new psychoactive substances (NPS) patut diwaspadai peredarannya karena bisa dibeli oleh anak-anak.

"Ada pil PCC yang sehari bisa memproduksi hingga 2,5 juta butir, harganya cuman Rp3.000 sampai Rp5.000, ini bisa dibeli anak-anak kita," kata Heru di Kampus Institut Teknologi Bandung, Kota Bandung, Rabu.

Berdasarkan data BNN, terdapat 803 narkoba jenis NPS yang ada di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia jumlah NPS yang terdeteksi mencapai 74 jenis.

Namun setelah dilakukan pengecekan setidaknya ada 66 jenis NPS yang sudah diatur Kementerian Kesehatan melalui Permenkes Nomor 20 Tahun 20118. Dalam peraturan itu disebutkan ketika ada pihak yang terbukti menyalahgunakan NPS maka bisa dikenai hukuman pidana.

Baca juga: Ada 71 jenis narkoba beredar di Indonesia, UU baru atur 16 saja

Menurutnya di era komunikasi ini, peredaran narkoba dapat dengan mudah diakses melalui jaringan internet. Maka dari itu, menurutnya, BNN cukup kesulitan dalam melacak peredaran narkoba yang melalui akses media sosial.

"Jadi identitasnya juga sulit dilacak, tersembunyi," kata dia.

Selain itu, Provinsi Jawa Barat sendiri, menurutnya, merupakan salah satu daerah dengan pengguna narkoba yang cukup besar. Tercatat dari total sekitar 3,6 juta pengguna, 600 ribu diantaranya merupakan warga Jawa Barat.

"Di Jabar sekarang paling banyak ada di Kota Depok. Karena banyak kampus juga kos-kosan. Kami sudah minta Wali Kota Depok agar ikut mengawasi," kata dia.

Menurutnya dari seluruh para pengguna yang tertangkap, 50 persennya merupakan pengguna baru pertama atau pengguna yang hanya mencoba cicipi narkoba. Heru menyebut mereka rata-rata menggunakan narkoba dengan golongan rendah, atau bisa dibilang NPS baru, bukan sabu-sabu.

"Kalau sabu mungkin kita bisa pantau. Makanya kita coba bekerja sama dengan semua pihak, jangan tekotak-kotak dalam memberantas peredaran narkoba," kata Heru.
Baca juga: BNN: Rokok salah satu pintu masuk narkoba
Baca juga: 24 jenis baru narkoba beredar
Baca juga: BNN dan Kemenkes siap antisipasi 251 narkoba baru

Pewarta : Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar