Padang perlu tingkatkan mitigasi agar siap hadapi gempa, kata pakar

id mitigasi bencana,gempa padang,sumbar,pakar kebencanaan,Unand,aa

Dokumentasi - Sejumlah kendaraan melintas di antara papan petunjuk evakuasi bencana, di Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Sumatera Barat, Senin (29/7/2019). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.

Padang, (ANTARA) - Pakar kebencanaan Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Badrul Mustafa menilai perlu dilakukan upaya meningkatkan mitigasi struktural di Padang agar lebih siap menghadapi gempa.

"Apalagi saat ini masih ada ancaman gempa megathrust yang bersumber dari segmen Siberut dan belum mengeluarkan energi, mitigasi struktural penting dilakukan sebagai langkah antisipasi," katanya di Padang, Senin.

Ia menyampaikan hal itu terkait peringatan 10 tahun gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) yang mengguncang Kota Padang dan sekitarnya pada 30 September 2009, yang menewaskan 1.117 orang.

Padang Berpotensi Megathrust



Badrul menjelaskan mitigasi struktural adalah memastikan bangunan terutama yang menjadi tempat berhimpun banyak orang seperti pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit dan perkantoran ramah dan tahan gempa.

Ia menilai bangunan yang dibangun usai gempa 2009 diasumsikan saat ini kondisinya lebih ramah gempa dan memenuhi standar karena sudah ada kepedulian akan pentingnya konstruksi yang kuat.

Akan tetapi bangunan yang sudah ada sebelumnya dan saat gempa 2009 masih kokoh, kata dia, perlu dilakukan penilaian ulang apakah kekuatannya masih layak.

Penilaian ulang, katanya, perlu dilakukan oleh pakar bidang sipil sehingga bisa memetakan bangunan yang masih aman dan yang perlu diperkuat hingga dibangun ulang.

Baca juga: BNPB sarankan Sumbar rutinkan mitigasi tsunami

Kemudian, katanya, terkait dengan keberadaan tempat evakuasi sementara seandainya tsunami datang perlu ditambah jumlahnya.

"Ke depan bentuknya harus berbeda dengan empat bangunan yang sudah ada saat ini," katanya.

Ia menilai empat tempat evakuasi sementara yang ada saat ini fungsinya kurang maksimal karena hanya dikhususkan dipakai saat evakuasi saja.

Sedangkan untuk yang sehari-hari tidak terpakai, katanya, ke depan bisa dibuat bangunan yang bermanfaat misalnya kantor pemerintah seperti camat atau lurah yang berada di zona rawan tsunami direhabilitasi dan dijadikan tempat evakuasi sementara

"Jadi selain memberikan rasa nyaman kepada pegawai yang bekerja juga menjadi tempat evakuasi sementara bagi warga sekitar," demikian Badrul Mustafa.

Baca juga: Padang jadi percontohan peringatan dini bencana alam berbasis internet

Baca juga: Sumbar alokasikan Rp940 juta untuk mitigasi bencana

Baca juga: Padang perkuat pengembangan sekolah siaga bencana

Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar