Ratusan artefak Dayak dipamerkan di Swiss

id budaya dayak,kbri bern swiss,museum kebudayaan,etnik kalimantan

Artefak kebudayaan Dayak meliputi pisau apang (mandau), tato etnik, pakaian perang, peti jenazah, serta patung kayu ditampilkan dalam pameran "Dayak: The Art of Head-Hunters" di Museo delle Cultura, Lugano, Swiss selama 9 bulan dari tanggal 28 September sampai 17 Mei 2020. ANTARA/HO KBRI Bern/pri

London (ANTARA) - Ratusan artefak kebudayaan Dayak meliputi pisau apang (mandau), tato etnik, pakaian perang, peti jenazah, serta patung kayu ditampilkan dalam pameran Dayak: The Art of Head-Hunters yang diadakan di Museo delle Cultura, Lugano, Swiss. 

Fungsi Pensosbud KBRI Bern, Swiss, Ruth Yohanna, kepada ANTARA di London usai pembukaan pameran tersebut, Jumat mengatakan KBRI Bern menyampaikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh pada pelaksanaan pameran ini.

"Dayak adalah salah satu etnis tua Indonesia yang masih terjaga dengan baik, kami sangat bangga bisa menyaksikan pameran budaya Dayak di Swiss ini, ujarnya.

Artefak-artefak itu akan dipajang selama sembilan bulan dari tanggal 28 September 2019 sampai 17 Mei 2020.

Baca juga: Dewan adat kumpul di Pekan Gawai Dayak di Pontianak
 

Paolo Maiullari, seorang kurator dari Swiss  bekerja keras meneliti budaya Dayak dan mengumpulkan artefak sejak awal tahun 2000-an.

 "Kami ingin warga Swiss melihat sisi lain dari budaya Dayak, jadi kami menata pameran kontemporer ini dari sudut pandang orang Dayak sendiri," ujarnya dalam siaran pers.

Upaya Paolo keluar-masuk hutan Kalimantan berbuah manis, para pengunjung yang hadir berdecak kagum melihat ratusan artefak yang dipajang, kata Ruth.

Museo delle Cultura di Lugano merupakan museum yang berfokus pada pelestarian kebudayaan kuno.

Diinisiasi oleh Serge Brignoni (1903-2002) yang berminat pada ukiran kayu dari Kalimantan, Museo delle Cultura menjadi museum dengan koleksi patung dan ukiran Dayak yang paling lengkap di dunia.

 

Baca juga: Tari Betandik Dayak pukau para duta besar
 


Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar