Jarak Pandang di Bandara Minangkabau hanya dua kilometer

id kabut asap, bandara minangkabau,kebakaran hutan,kebakaran hutan dan lahan,asap karhutla,karhutla

Suasana kawasan pusat Kota Padang diselimuti kabut asap kiriman, di Sumatera Barat, Senin (19/8/2019). (Antara/Iggoy El Fitra)

Padang Pariaman, (ANTARA) - Jarak pandang di Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman, Sumatera Barat hanya berkisar dua kilometer pada Senin pagi akibat pekatnya kabut asap berdasarkan hasil pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat.

"Untuk di Bandara Minangkabau pagi tadi sempat berada pada dua kilometer, namun saat ini mulai kembali meningkat menjadi 3,5 kilometer," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha di Padang, Senin.

Menurut dia terdapat peningkatan titik api di Sumatera berdasarkan data terakhir dari LAPAN yang mencapai 824 titik, dan delapan di antaranya terdapat di Sumbar.

Baca juga: Kualitas udara berbahaya, ASN dan PTT hamil turut diliburkan

Baca juga: Asap semakin pekat, pemerintah Jambi perpanjang libur sekolah


"Kalau di daerah lebih pendek lagi jarak pandang, Bukittinggi hanya 500 meter," kata dia.

"Karena kualitas udara yang semakin memburuk, masyarakat dianjurkan untuk menggunakan masker apabila berada di luar ruangan menghindari infeksi saluran pernafasan, ujarnya.

Akan tetapi kendati jarak pandang cukup pendek aktivitas penerbangan masih berjalan normal dan belum ada pembatalan penerbangan.

"Sejauh ini semua masih normal, penerbangan akan terganggu kalau jarak pandang hanya 800 meter hingga satu kilometer," kata Humas PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Minangkabau Fendrick Sondra saat dikonfirmasi.

Menurut dia jika memang jarak pandang tidak memadai maka ada beberapa solusi yang bisa dilakukan mulai dari menunda penerbangan, mengalihkan pendaratan hingga pembatalan.

Sementara salah seorang warga Padang Reni mengeluhkan pekatnya kabut asap pada Senin pagi dibanding hari biasa.

Matahari sampai berwarna kemerahan, aroma asap cukup kuat, kata dia.

Ia berharap pemerintah mengambil kebijakan untuk meliburkan sekolah agar pelajar tidak terpapar kabut asap yang bisa berdampak pada kesehatan.

Baca juga: Kabut asap sebabkan 18 jadwal penerbangan tertunda di Palembang

Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar