Menunggu tindak lanjut Jokowi kembangkan mobil Esemka

id tindak lanjut,esemka,presiden jokowi

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) mengamati salah satu produk mobil keluaran pabrik mobil Esemka saat meresmikan pabrik mobil PT. Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di Boyolali, Jawa Tengah. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho/wpa.

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya meresmikan pabrik otomotif karya anak bangsa PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka).

Presiden mengatakan ingin mendukung pengembangan otomotif nasional, sehingga mau meresmikan pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di Desa Demangan Kecamatan Sambi Boyolali tersebut.

Mobil Esemka kata Jokowi, adalah brand dan principal Indonesia, dan merek sendiri yang sudah dirintis kurang lebih selama 10 tahun lalu oleh para teknisi, anak-anak SMK, dan sejumlah inisiator.

Namun, kata Jokowi yang namanya membuat mobil tidak hanya memproduksi saja, tetapi juga bagaimana cara menjualnya.

Sebuah usaha pertama dalam memulai industri otomotif dengan brand dan principal Indonesia ini, harus diacungi jempol keberanian dari PT Solo Manufajktur Kreasi ini. Tidak mudah dan gampang, masuk pasarnya, tetapi kalau sebagai sebuah bangsa mau menghargai karya sendiri brand dan principal Indonesia ini, mobil Esemka akan laku.

Ke depan Esemka akan memiliki efek yang berantai di belakangnya, baik pemasok maupun industri menengah, kecil sampai industri rumah tangga yang berperan dalam pasokan yang panjang. Sehingga, membuka lapangan pekerjaan yang sebanyak-banyaknya.

Bukan hanya pekerja langsung yang mendapat manfaat, kata dia, tetapi dampak ikutan yang besar secara umum pada ekonomi terutama di wilayah Kabupaten Boyolali akan sangat besar.

Sementara itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan sebagai produsen otomotif, PT Solo Manufaktur Kreasi memiliki Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) yang telah diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian untuk enam jenis kendaraan roda empat.

Empat di antaranya merupakan kendaraan komersial tipe pick up single cabin yang diberi nama BIMA - ESEMKA, lalu satu tipe penumpang double cabin yang diberi nama DIGDAYA - ESEMKA dan satu tipe lagi kendaraan penumpang minivan dengan nama BORNEO – ESEMKA.

Lalu apa tindak lanjut yang perlu dijalankan oleh Esemka usai diresmikan oleh Presiden Joko Widodo?

Baca juga: Esemka diluncurkan, pemerintah harus serius kembangkan industri mobil

Gandeng industri lokal
Peneliti Perdagangan, Industri dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan bahwa kehadiran produsen mobil Esemka yakni PT Solo Manufaktur Kreasi diharapkan menggandeng industri komponen lokal dalam proses produksinya.

Kalau Esemka merupakan produk lokal, artinya produk mobil tersebut bisa menggaet produsen-produsen komponen kecil lainnya, sehingga produsen suku cadang dalam negeri bisa berkontribusi

Sebagai merek nasional, sebaiknya Esemka memiliki daya saing yang sama baiknya dengan mobil produksi negara lain, misalnya asal Jepang, di negeri sendiri.

Selain itu, terkait kualitas dari produk Esemka sendiri, Andry menilai produk otomotif nasional ini perlu terus mengembangkan inovasinya agar dapat menjaga kualitas dan meraih hati konsumen dalam negeri maupun global.

Ladang karya insinyur nasional

Sedangkan Direktur Re-industrialisasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Achmad Rizal mengatakan bahwa mobil Esemka diharapkan bisa menjadi ladang berkarya bagi insinyur Tanah Air.

Dengan memiliki merek mobil sendiri, insinyur-insinyur Indonesia akan bisa melakukan riset dan pengembangan sendiri sehingga ini memberikan ladang tempat berkarya bagi mereka.

Saat ini di Indonesia terdapat sejumlah pabrik mobil yang sayangnya didominasi oleh fasilitas perakitan. Kondisi tersebut dinilainya tidak bisa memberikan kesempatan insinyur lokal untuk mengembangkan produk sendiri karena membutuhkan persetujuan kantor pusat pabrikan otomotif.

Rizal berharap keberadaan industri otomotif lokal seperti Esemka bisa didukung penuh oleh semua kalangan, tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat.

Terlebih, dengan membangun fasilitas produksi sendiri, maka perusahaan akan dapat menyerap tenaga kerja baik untuk perakitan maupun riset dan pengembangan.

Baca juga: Menperin sebut Esemka wujud kekuatan industri otomotif nasional
Ratusan unit mobil Esemka dalam proses produksi saat peresmian pabrik PT Manufaktur Kreasi (Esemka) oleh Presiden Joko Widodo, di Desa Demangan Kecamata Sambi Kabupaten Boyolali, Jateng, Jumat (6/9) (Foto:Bambang Dwi Marwoto)


Peta jalan industri otomotif

Pengamat ekonomi Hisar Sirait menilai pemerintah harus memiliki arah dan kebijakan industri mobil di Indonesia dalam rangka pengembangan industri otomotif yang lebih kuat pascaperesmian pabrik Esemka.

Saat ini Indonesia belum memperoleh suatu kepastian apakah mobil Esemka ini dianggap jadi mobil nasional atau tidak? Dalam hal ini pemerintah harus berani menyatakan bahwa mereka sudah punya yang namanya peta jalan pengembangan mobil nasional, untuk sekarang ini terlihat dari adanya Esemka.

Saat ini peta jalan pengembangan industri otomotif Indonesia sangat dibutuhkan karena nantinya akan melahirkan kebijakan mobil nasional.

Selain itu Indonesia harus punya komitmen jika memang ingin mengembangkan dan memperkuat industri mobil Indonesia mandiri dan berdaya dalam penguasaan teknologi mobil yang dikenal rumit untuk bisa dikuasai.

Indonesia harus melihat dan belajar dari pengalaman industri mobil Malaysia, di mana pemerintah Malaysia sudah luar biasa menunjukkan komitmen mereka untuk membangun industri mobil nasional Malaysia tapi sayangnya malah kurang berhasil.
 

Jokowi resmikan pabrik mobil Esemka


Tidak ulangi kesalahan 
Pengamat ekonomi Hisar Sirait juga berharap pemerintahan saat ini, usai Esemka diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, jangan sampai mengulangi kesalahan proyek mobil nasional di era Orde Baru (Orba) yang sempat mengalami kegagalan.

Proyek mobil nasional pertama yang gagal pada beberapa dekade lalu karena menjalankan komitmen penuh pemerintah untuk memberikan banyak hal terkait dengan pengembangan industri mobil secara setengah-setengah alias parsial.

Dengan demikian masing-masing pihak tidak memiliki sesuatu yang disebut terintegrasi penuh, integrasi sempurna untuk pengembangan sebuah industri mobil. Padahal ini sangat dibutuhkan karena industri mobil merupakan industri otomotif yang tidak hanya dibangun secara parsial.

Faktor selanjutnya yakni daya saing dari produk yang dihasilkan oleh industri mobil. Proyek mobil nasional dulu hanya berpikir output oriented atau yang penting ada dulu, tidak memikirkan secara panjang mengenai daya saing dari produk yang dihasilkannya.

Jangan sampai mobil Esemka juga menjadi korban dari pandangan output oriented yang pernah membuat gagal proyek mobil nasional dulu yang tidak melihat keberlanjutan dari mobil nasional tersebut.

Kesalahan lainnya yang dialami oleh proyek mobil nasional sebelumnya adalah rantai pasokan produksi yang sangat lemah, lanjutnya, untuk menghasilkan sebuah mobil harus mengintegrasikan jaringan-jaringan pasokan yang mendukung lini produksi.

Indonesia boleh berbangga hati karena pada akhirnya memiliki mobil yang dibuat dan dihasilkan oleh anak-anak bangsa.

Namun tindak lanjut yang tepat usai seremoni peresmian, seperti menggandeng industri-industri komponen lokal, menjadi ladang karya insinyur nasional dan membuat peta jalan yang terarah dan terukur sangat dibutuhkan Esemka agar tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi beberapa dekade silam.

Baca juga: Jokowi jajal mobil bak Bima buatan Esemka

Pewarta : Aji Cakti
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar