55 peneliti temukan potensi alam pulau kecil terluar di Indonesia

id Ekspedisi Nusa Manggala,Pulau kecil terluar Indonesia, Penelitian, LIPI

Kanan ke kiri: Koordinator Ekspedisi Nusa Manggala, Udhi Eko Hernawan, Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI, Zainal Arifin, Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, Koordinator tim peneliti Ekspedisi Nusa Manggala Leg 3, Muhammad Hafist, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Augy Syahailatua, Koordinator tim peneliti Ekspedisi Nusa Manggala Leg 2, I Wayan Eka Dharmawan saat ditemui usai temu pers 'Ekspedisi Nusa Manggala, Kisah 8 pulau terluar' di Jakarta, Rabu (14/8/2019). (ANTARA Foto/ Abdu Faisal)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 55 peneliti dan ilmuwan yang tergabung dalam pusat penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Coral Reef Rehabilitation and Management Program - Coral Triangle Initiative (Coremap-CTI) menemukan potensi alam delapan Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) di Indonesia.

Penelitian tersebut dilakukan di pulau Yiew, Budd, Fani, Bras dan Fanildo, Liki, Bepondi, dan Miossu serta satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan Raja Ampat, Papua, dalam suatu kegiatan yang diberi nama Ekspedisi Nusa Manggala.

"Kegiatan ekspedisi Nusa Manggala adalah penelitian untuk menggali data dan informasi sumber daya alam hayati dan non hayati di kawasan pesisir PPKT Indonesia," kata Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI Zainal Arifin di Jakarta, Rabu (14/8).

Sebagai negara kepulauan terbesar dan poros maritim dunia, Indonesia memiliki 10 perbatasan maritim dengan 111 PPKT terhampar di sekitarnya. Perbatasan perairan Indonesia dan Samudra Pasifik adalah salah satunya. Minimnya informasi ilmiah tentang potensi sumber daya alam di kawasan itu mendorong LIPI melakukan ekspedisi ke sana.

Baca juga: LIPI tingkatkan peran fasilitator dan katalisator aktivitas riset

Selama kurang lebih 49 hari, 55 orang peneliti Indonesia di bidang ekologi, daya dukung lingkungan, sosial kemanusiaan serta geomorfologi turut andil dalam ekspedisi yang menjelajah lebih dari 6.000 kilometer perjalanan.

"Di kepulauan Mapia, tepatnya di pulau Bras dan Fanildo terdapat salah satu atol terbesar di Indonesia dengan luasan area lebih dari 3.000 hektare," kata koordinator Ekspedisi Nusa Manggala, Udhi Eko Hernawan, Rabu.

Ia menambahkan, atol tersebut menjadi habitat unik bagi beragam biota laut seperti karang hias Lobophyllia, Physogyra, dan Cynarina lacrimalis.

"Bahkan semua jenis kerang kima yang ada di Indonesia, ketujuh jenisnya semua dapat ditemukan di kepulauan itu. Ditambah catatan sebaran baru kehadiran jenis Tridacna noae," ujar koordinator tim peneliti ekspedisi Nusa Manggala Leg 2, Wayan Eka.

Atol adalah karang di laut yang berbentuk melingkar seperti cincin. Di dinding karang inilah, sebuah surga bawah laut tercipta, terdiri dari beragam biota yang membangun suatu ekosistem besar.

Indonesia harusnya berbangga diri. Karena itu berarti ada sangat banyak spesies biota yang hidup di dalamnya. Sebelumnya atol terbesar ketiga di dunia disebut juga berada di Indonesia yaitu di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Atol di Taka Bonerate masih yang paling besar di Indonesia, tapi di kepulauan Mapia salah satu yang terbesar," ujar Wayan.

Baca juga: LIPI sebut SDM berbasis pendidikan tinggi jadi penggerak inovasi

Sedangkan Pulau Bras adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Pasifik dan berbatasan dengan negara Palau. Pulau Bras itu merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Supiori, provinsi Papua. Dikutip dari wikipedia, pulau tersebut berada di sebelah utara dari Kota Manokwari dengan koordinat 0° 55′57″ Lintang Utara, 134° 20′30″ Bujur Timur.

Keberadaan pulau terluar memiliki peran yang sangat penting dalam menyediakan ekosistem alam yang produktif dan menunjang sektor pangan, perikanan, dan wisata. Keberadaannya merupakan penanda kedaulatan negara di beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Ekspedisi Nusa Manggala merupakan salah satu bukti kehadiran negara di PPKT melalui aktivitas riset yang dilakukan LIPI," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko.

Selain atol, dari ekspedisi tersebut juga didapatkan daftar isu strategis terkait pengelolaan sumber daya pesisir di PPKT yang tertuang dalam naskah kebijakan dan dibuat juga dalam bentuk film dokumenter dan buku.

"Semoga bermanfaat bagi pembuat kebijakan dan masyarakat," tandas Handoko.

Baca juga: LIPI raih penghargaan ISIS Economic Impact Award 2019

Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar