Tiga permukiman warga di Sigi diterjang banjir

id banjir,sigi,BPBD

Sebuah rumah terkubur lumpur yang telah mengering di Desa Bangga, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (3/7/2019). Desa seluas 185,08 kilometer persegi dan berpenduduk 2.420 jiwa itu dinyatakan tidak layak huni lagi setelah diterjang tiga kali banjir bandang sejak 28 April 2019 lalu yang menimbun rumah-rumah warga dan fasilitas publik lainnya. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pras.

Sigi (ANTARA) - Tiga wilayah permukiman warga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, diterjang banjir pada Selasa (13/8) sekitar pukul 18.00 Wita dan sempat menghambat arus lalulintas kendaraan yang melintas bari dari arah Kota Palu menuju Kulawi dan sebaliknya.

"Tapi dalam bencana alam itu tidak ada korban jiwa," kata seorang pejabat di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Gayus Sampe kepada Antara Palu, Rabu.

Ia mengatakan belum diketahui secara detail dampak yang ditimbulkan oleh bencana banjir tersebut karena masih sedang diinventarisasi oleh petugas yang ada di lapangan.

Yang jelas, kata dia, wilayah yang terdampak banjir ada tiga yakni Dusun Sadaunta, Desa Namo dan Desa Sapo, Kecamatan Kulawi.
Banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kulawi Raya yang terdiri atas empat kecamatan yakni Kulawi, Kulawi Selatan, Pipikoro dan Lindu.
Pemkab Sigi, katanya telah menyalurkan berbagai logistik bahan makanan kepada para korban di tiga wilayah terdampak banjir.

Sementara Kepala BPBD Provinsi Sulteng, Bartholomeus Tandigala mengatakan Kabupaten Sigi merupakan daerah yang paling tinggi terjadinya bencana alam banjir dan longsor.

Sigi memang termasuk daerah yang cukup rawan bencana alam. Selama beberapa bulan terakhir ini, Kabupaten Sigi dilanda bencana banjir. Banjir bandang terbesar terjadi di Kecamatan Dolo Selatan dan Gumbasa yang mengakibatkan ratusan rumah warga rusak berat dan tertimbun material pasir dan limbah kayu serta sempat memutuskan akses jalan provinsi antara Desa Saluki dan Desa Tuva.

Jalan aspal sepanjang ratusan meter di Desa Saluki-Tuva Kecamatan Gumbasa saat banjir bandang tersebut dibawah arus sehingga harus membuat jalan baru dengan mengikis tebing/gunung dan kebun masyarakat guna menormalkan kembali jalur satu-satunya yang selama ini menghubungkan Kulawi Raya dengan Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng.

Sementara di Palu sendiri, lanjut dia, sudah sebulan terakhir dilanda musim kemarau. Kondisi cuaca di wilayah Sulteng memang berbeda-beda. Contoh di Palu cuaca panas, tetapi di kabupaten-kabupaten justru hujan.

Baca juga: Enam desa di Sigi diterjang banjir, jalan lintas provinsi putus

Baca juga: Alur Sungai Paneki harus ditata untuk cegah banjir

Pewarta : Anas Masa
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar