Logo Header Antaranews Sumsel

BPBD: Sebanyak 2.557 titik panas di Sumsel hingga pertengahan Juli 2026

Kamis, 16 Juli 2026 07:30 WIB
Image Print
Personel BPBD Muara Enim melakukan patroli di lokasi karhutla untuk mencegah muncul kembali titik api. ANTARA/HO-BPBD Muara Enim

Palembang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mencatat sebanyak 2.557 titik panas (hotspot) tersebar di wilayah itu sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman di Palembang, Rabu, mengatakan jumlah hotspot cenderung rendah pada awal tahun, namun meningkat tajam sejak Mei seiring mulai memasuki musim kemarau.

Ia merinci pada Januari terdeteksi sebanyak 75 hotspot, Februari 54 hotspot, Maret 107 hotspot, dan April 150 hotspot. Selanjutnya jumlah hotspot melonjak menjadi 708 titik pada Mei dan mencapai puncaknya pada Juni dengan 755 hotspot.

"Sementara hingga 14 Juli 2026, jumlah hotspot yang terpantau telah mencapai 708 titik, sehingga aktivitas titik panas masih tergolong tinggi," katanya.

Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Muara Enim menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 454 titik, disusul Kabupaten Lahat sebanyak 381 titik dan Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak 350 titik.

Kemudian, Kabupaten Ogan Komering Ilir mencatat 197 hotspot, Kabupaten Musi Rawas 185 hotspot, serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebanyak 130 hotspot.

Lalu, untuk wilayah perkotaan mencatat jumlah hotspot yang relatif rendah, yakni Kota Lubuk Linggau sebanyak 14 titik, Kota Palembang 12 titik, dan Kota Pagar Alam delapan titik.

Sudirman mengatakan peningkatan hotspot mulai terjadi pada Mei dan terus berlanjut hingga pertengahan Juli. Kondisi tersebut mengindikasikan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring berlangsungnya musim kemarau.

Daerah dengan jumlah hotspot tertinggi menjadi prioritas dalam pelaksanaan langkah pencegahan, pemantauan, dan penanggulangan karhutla guna mencegah meluasnya kebakaran di Sumatera Selatan.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026