
Peneliti: Algoritma jadi aktor baru dalam komunikasi politik digital

Jakarta (ANTARA) - Peneliti komunikasi politik digital dan literasi media Liza Fitriani Nurkholi menilai algoritma telah berkembang menjadi aktor baru dalam komunikasi politik digital.
Sebab, kata dia, kehadiran algoritma memengaruhi cara masyarakat menerima, menyebarkan, dan menilai berbagai informasi politik.
"Algoritma tidak lagi berfungsi sebagai alat netral dalam membentuk arus informasi publik," ucap Liza dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, logika viralitas sering kali mengalahkan kualitas argumentasi dalam berbagai percakapan politik yang berkembang melalui media sosial.
Ia mengatakan konten yang menarik perhatian belum tentu benar, namun sering memperoleh jangkauan lebih luas dibanding informasi berkualitas.
Maka dari itu, dirinya bersama Alfarisi Thalib meluncurkan buku Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma, di Jakarta, Sabtu (20/6).
Buku tersebut membahas pengaruh algoritma terhadap pembentukan wacana politik dan penguatan demokrasi pada era digital serta menjelaskan perubahan peran algoritma pada ruang politik modern.
Peneliti politik, demokrasi, dan keamanan Alfarisi Thalib mengatakan gagasan penulisan buku berangkat dari dinamika politik selama penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Indonesia.
"Saat itu, marak sekali penyebaran hoaks. Di dunia digital, khususnya media sosial itu, menjadi hutan rimba, kita tidak paham mana konten asli atau palsu," kata Alfarisi.
Dijelaskan bahwa kondisi tersebut mendorong keduanya untuk melakukan diskusi panjang mengenai fenomena penyebaran informasi pada ruang digital. Kedua penulis lalu menelaah berbagai referensi untuk memahami faktor yang memengaruhi perilaku pengguna media sosial.
Dia berpendapat fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi masyarakat umum, tetapi juga kalangan akademisi dan politisi. Banyak pihak dinilai terlibat menyebarkan informasi tanpa memahami secara utuh validitas sumber yang digunakan.
Dengan demikian, kata dia, bukan hanya masyarakat biasa, melainkan pula akademik bahkan politisi ikut terjebak menyebarkan berbagai informasi palsu, hingga kemudian berujung pada kesepakatan dirinya dan Liza untuk menulis penyebab hal itu.
Melalui proses penelitian dan penulisan, kedua penulis menemukan adanya faktor yang memengaruhi perilaku pengguna media sosial. Faktor itu dinilai berperan besar dalam mendorong keterlibatan masyarakat pada berbagai percakapan digital.
Alfarisi menilai algoritma menjadi salah satu kekuatan utama yang membentuk arus informasi pada ruang digital, yang dipenuhi beragam informasi yang sulit diverifikasi kebenaran dan keasliannya.
"Masyarakat memperoleh kemudahan mengakses informasi melalui berbagai platform media sosial setiap harinya, namun publik sering menghadapi kesulitan membedakan informasi valid dengan konten menyesatkan yang beredar luas," ucap dia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Peneliti: Algoritma jadi aktor baru dalam komunikasi politik digital
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
