Logo Header Antaranews Sumsel

Pempek Umiabi perluas pasar lewat digitalisasi QRIS BNI

Jumat, 12 Juni 2026 22:20 WIB
Image Print
Pemilik Pempek Umiabi, Eka, yang sudah menggunakan sistem pembayaran QRIS melalui BNI. (ANTARA/Winda Tri Agustina)

Palembang (ANTARA) - Aroma pempek yang baru diangkat dari penggorengan masih menjadi daya tarik utama bagi pencinta kuliner di tengah hiruk-pikuk Kota Palembang. Namun, beberapa tahun terakhir, perubahan besar terjadi bukan pada resep atau cita rasanya, melainkan pada metode pembayaran konsumen.

Jika dahulu transaksi harus menggunakan uang tunai atau transfer bank yang memerlukan proses cukup panjang, kini pelanggan cukup memindai kode QR untuk menyelesaikan pembayaran dalam hitungan detik.

Perubahan sederhana itu menjadi bagian dari perjalanan Pempek Umiabi, salah satu UMKM kuliner di Jalan Ario Kemuning, KM 5, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Warung pempek ini mulai merasakan manfaat digitalisasi melalui QRIS BNI.

Pemilik Pempek Umiabi, Eka, yang diwawancarai di Palembang, Kamis (11/6/2026), mengatakan kemudahan transaksi digital bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan agar usaha dapat terus berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen.

Sebelum menggunakan QRIS BNI, hampir seluruh transaksi di lapaknya menggunakan uang tunai atau transfer bank. Cara tersebut kerap menimbulkan kendala, terutama bagi pelanggan yang tidak membawa uang tunai atau berada jauh dari mesin ATM. Sementara itu, transaksi transfer membutuhkan waktu lebih lama karena pelanggan harus memasukkan nomor rekening terlebih dahulu.

"Kalau transfer, pelanggan harus menyimpan nomor rekening dulu lalu melakukan transfer. Kalau tunai, sering terkendala uang pas atau kesulitan mencari kembalian," ujar Eka.

Situasi tersebut mulai berubah ketika ia memutuskan menggunakan QRIS BNI. Proses adaptasi teknologi ini berlangsung cepat. Melalui aplikasi wondr by BNI, transaksi menjadi lebih praktis karena pelanggan cukup memindai kode QR dan pembayaran langsung masuk ke rekening.

"Yang penting ada aplikasi BNI, transaksi jadi lebih mudah. Tinggal pindai, uang langsung masuk dan bisa kami pantau melalui notifikasi," katanya.

Bagi banyak pelaku usaha kecil, pembayaran sering dianggap sekadar tahap akhir transaksi. Namun di era digital, kemudahan pembayaran justru menjadi bagian penting dari pengalaman pelanggan (customer experience).

Hal itu yang dirasakan Pempek Umiabi. Ketiadaan biaya tambahan bagi pelanggan yang menggunakan QRIS BNI membuat transaksi menjadi lebih nyaman. Berbagai promo dan program yang ditawarkan BNI juga mendorong minat pelanggan untuk berbelanja.

Perubahan tersebut semakin terasa ketika Pempek Umiabi mengikuti bazar dan pameran. Jika sebelumnya transaksi sering terkendala keterbatasan uang tunai, kini hampir seluruh pengunjung dapat melakukan pembayaran secara instan menggunakan ponsel. Bahkan wisatawan dari luar daerah maupun pengguna aplikasi perbankan lain tetap dapat bertransaksi dengan mudah melalui QRIS.

"Kalau ikut bazar atau pameran, QRIS sangat membantu. Pembayaran dari berbagai bank bisa langsung masuk dan prosesnya cepat," ujar Eka.

Digitalisasi pembayaran ternyata membawa dampak yang lebih besar dari sekadar mempercepat transaksi. Bagi Pempek Umiabi, QRIS BNI menjadi salah satu pintu masuk menuju pasar yang lebih luas.

Saat ini, sekitar 70 persen transaksi usaha mereka berasal dari penjualan daring (online). Konsumen tidak lagi hanya berasal dari Palembang, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri. Dalam kondisi tersebut, dukungan layanan perbankan digital menjadi kebutuhan penting agar transaksi dapat berlangsung tanpa hambatan.

Transformasi ini menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM tidak selalu dimulai dari investasi besar atau teknologi yang rumit. Langkah pertama justru hadir melalui kemudahan menerima pembayaran digital. Dari sana, pelaku usaha mulai membangun pencatatan keuangan yang lebih rapi, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Kisah Pempek Umiabi menjadi gambaran bagaimana transformasi digital kini menjangkau pelaku usaha hingga level mikro. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah pengguna QRIS secara nasional terus meningkat setiap tahun seiring semakin luasnya penerimaan pembayaran digital di berbagai sektor usaha. UMKM menjadi kelompok yang paling merasakan manfaat karena transaksi menjadi lebih cepat, aman, dan terdokumentasi dengan baik.

Bagi BNI, digitalisasi pembayaran melalui QRIS bukan hanya soal menyediakan alat transaksi, melainkan juga membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan menerima pembayaran digital kini menjadi kebutuhan dasar bagi UMKM yang ingin berkembang.

Eka merasakan sendiri perubahan tersebut. Usaha kuliner lokal miliknya kini mampu menjangkau pelanggan lintas kota hingga lintas negara. Di balik setiap kode QR yang terpajang di meja kasir, tersimpan cerita tentang bagaimana teknologi membantu usaha kecil bertahan, tumbuh, dan naik kelas.

Ia berharap semakin banyak pelaku usaha kecil mendapatkan kemudahan yang sama.

"Semoga BNI terus membantu pengusaha kecil mengembangkan usahanya dan memberikan kemudahan dalam bertransaksi," ujarnya.

Di era ketika ponsel telah menggantikan dompet sebagai alat pembayaran utama, perjalanan Pempek Umiabi menunjukkan bahwa transformasi digital bukan lagi masa depan yang jauh. Transformasi itu sedang berlangsung hari ini di lapak-lapak UMKM, di meja kasir sederhana, dan di setiap transaksi yang terjadi hanya dengan satu kali pindai.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026