Logo Header Antaranews Sumsel

Mendiagnosis ulang sektor usaha lewat Sensus Ekonomi 2026

Jumat, 12 Juni 2026 22:09 WIB
Image Print
BPS Sumsel menggelar pelatihan bagi petugas Sensus Ekonomi 2026. (ANTARA/HO/BPS)

Palembang (ANTARA) - Banyak pelaku usaha di Sumatera Selatan masih mengandalkan toko fisik untuk menjual produknya pada sepuluh tahun lalu. Saat itu, promosi berlangsung dari mulut ke mulut, pasar tradisional menjadi pusat transaksi, dan telepon pintar belum menjadi lapak utama bagi para pedagang.

Hari ini situasinya jauh berbeda.

Pelaku usaha kini dapat memasarkan pempek, kopi, kain jumputan, kerajinan tangan, hingga produk kuliner rumahan ke berbagai daerah hanya melalui media sosial dan marketplace. Banyak pelaku usaha menjalankan bisnis dari rumah tanpa perlu memiliki toko permanen, bahkan sebagian besar transaksi berlangsung secara digital.

Perubahan itulah yang mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) merevitalisasi data melalui "diagnosis ulang" terhadap ekonomi Sumatera Selatan dalam Sensus Ekonomi 2026.

Kepala BPS Sumsel Mohammad Wahyu Yulianto di Palembang, Kamis (2/6/2026), menyebutkan sensus ekonomi sebagai upaya untuk melihat kembali struktur ekonomi daerah setelah satu dekade mengalami berbagai perubahan.

"Kita ingin menangkap kembali potensi ekonomi di satu wilayah. Nanti akan terlihat jumlah usahanya, bergerak di sektor apa, apakah industrinya berkembang, bagaimana perdagangannya, bagaimana pertaniannya. Jadi kita melihat lagi strukturnya," ujar Wahyu.

Istilah "diagnosis ulang" terasa tepat karena wajah ekonomi Sumsel saat ini tidak lagi sama seperti ketika Sensus Ekonomi terakhir berlangsung pada 2016.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun, ekonomi digital berkembang pesat. UMKM semakin mudah mengakses pasar melalui internet. Pelaku usaha mikro yang sebelumnya hanya melayani konsumen di sekitar rumah, kini dapat menjual produknya ke berbagai kota hingga luar provinsi.

Kemajuan teknologi juga melahirkan banyak jenis usaha baru yang sebelumnya belum dikenal luas. Industri kreatif tumbuh, jasa berbasis digital bermunculan, dan generasi muda mulai melihat kewirausahaan sebagai pilihan karier yang menjanjikan.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin besarnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan UMKM dan ekonomi digital. Salah satu langkah yang saat ini menjadi program unggulan adalah gerakan mencetak 100.000 Sultan Muda Sumsel.

Program gagasan Pemerintah Provinsi Sumsel bersama berbagai pemangku kepentingan itu bertujuan melahirkan wirausahawan muda, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah melalui kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi. Pemerintah menargetkan lahirnya puluhan ribu pengusaha muda dalam beberapa tahun ke depan.

Program tersebut menunjukkan pergeseran arah pembangunan ekonomi Sumsel. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada sektor-sektor besar seperti pertambangan, perkebunan, dan industri pengolahan, kini UMKM dan ekonomi digital menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru yang terus didorong.

Transformasi itu semakin terlihat ketika pemerintah mulai mendorong pelaku UMKM memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menjalankan usaha. Melalui program 100.000 Sultan Muda, para pelaku usaha muda didorong memanfaatkan teknologi sebagai alat meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.

Namun pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya perkembangan UMKM dan ekonomi digital tersebut?. Berapa jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi?. Sektor apa yang tumbuh paling cepat?. Wilayah mana yang memiliki potensi usaha terbesar?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan dijawab melalui Sensus Ekonomi 2026.

Saat ini BPS Sumsel telah merekrut sekitar 7.500 petugas yang akan turun ke seluruh kabupaten dan kota. Mereka sedang menjalani pelatihan sebelum mendata berbagai jenis usaha, mulai dari toko, bengkel, rumah makan, pedagang kaki lima, hingga usaha daring dari rumah. Pendataan Lapangan (Petugas Door-to-Door) langsung ke tempat usaha/rumah dari 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Bagi BPS, aktivitas ekonomi tidak lagi terbatas pada bangunan usaha yang mudah dikenali. Pelaku usaha yang menjalankan bisnis melalui aplikasi, media sosial, atau marketplace juga menjadi bagian penting dari potret ekonomi yang harus dicatat. Oleh karena itu, petugas nantinya tidak hanya mendatangi ruko dan kantor, melainkan juga akan mengunjungi rumah-rumah yang menjadi pusat aktivitas usaha masyarakat.

Data yang terkumpul nantinya akan menjadi peta baru ekonomi Sumsel. Dari sana akan terlihat dominasi sektor pertanian, kontribusi perdagangan dan industri pengolahan, serta kekuatan perkembangan ekonomi kreatif dan UMKM digital dalam menopang pertumbuhan daerah.

Hasil sensus juga dapat membantu menjawab tantangan pembangunan di Sumsel. Sensus ini akan menguji apakah industri pengolahan sudah mendukung potensi pertanian yang besar, apakah UMKM sudah mendapatkan akses pembiayaan yang cukup, atau apakah program pengembangan wirausaha muda telah menjangkau wilayah-wilayah potensial.

Manfaatnya tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga pelaku usaha untuk membaca peluang pasar. Mereka dapat melihat sektor usaha yang berkembang, daerah yang potensial untuk ekspansi, hingga kebutuhan masyarakat yang belum banyak digarap. Karena itulah partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan sensus.

Masyarakat tidak perlu khawatir saat didatangi petugas karena BPS menegaskan bahwa data yang diberikan tidak berkaitan dengan pajak dan dijamin kerahasiaannya. Informasi yang dipublikasikan nantinya hanya berupa data agregat atau gabungan, bukan data individu maupun rincian usaha perorangan.

Pada akhirnya, Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kegiatan statistik sepuluh tahunan. Sensus ini adalah upaya membaca ulang arah ekonomi Sumatera Selatan di tengah perubahan yang begitu cepat.

Di saat ribuan UMKM mulai go digital, generasi muda didorong menjadi wirausahawan melalui program 100.000 Sultan Muda, dan teknologi mengubah cara masyarakat berbisnis, Sumsel membutuhkan peta ekonomi yang lebih mutakhir.

Sebab, untuk menentukan arah ekonomi daerah dalam sepuluh tahun mendatang, Sumatera Selatan harus terlebih dahulu memahami secara utuh perubahan yang telah terjadi selama sepuluh tahun terakhir.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026