Logo Header Antaranews Sumsel

Akademisi dorong hilirisasi digital potong rantai pasok pangan di Sumsel

Rabu, 10 Juni 2026 11:59 WIB
Image Print
Kegiatan Tim Pemberdayaan Universitas IBA, bersama para petani di Banyuasin, Sumatera Selatan. ANTARA/HO/Universitas IBA

Palembang (ANTARA) - Inovasi hilirisasi pertanian berbasis digital terus didorong masuk ke tingkat kelompok tani di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, guna mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang bertujuan memotong rantai pasok.

Ketua Tim Pemberdayaan Universitas IBA Yursida dalam rilisnya di Palembang, Rabu, mengatakan bahwa pemanfaatan pemasaran digital (digital marketing) langsung dari tingkat petani merupakan langkah strategis untuk menstabilkan harga pangan sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani lokal.

"Menjawab tantangan pasar modern, para petani lokal saat ini dilatih untuk menguasai manajemen pemasaran pascapanen berbasis digital. Materi hilirisasi tersebut diberikan untuk memotong rantai distribusi agar petani bisa menikmati keuntungan yang lebih besar," kata Yursida.

Langkah integrasi digital ini selaras dengan program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui pendanaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) tahun anggaran 2025 dalam mempercepat digitalisasi sektor pertanian (agritech).

Sebagai proyek percontohan nasional, program penguatan ini diterapkan pada Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur di Banyuasin, Sumatera Selatan. Proyek ini memadukan program ketahanan pangan nasional pada sektor hulu dan efisiensi niaga elektronik (e-commerce) di sektor hilir.

Di sektor hulu, petani diajarkan memproduksi komoditas pemicu inflasi seperti cabai keriting varietas unggul Neno IPB menggunakan teknologi Proliga (produksi lipat ganda) untuk menjaga kontinuitas pasokan pasar.

Sementara di sektor hilir, petani didampingi oleh tim akademisi Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas IBA yang beranggotakan Karlin Agustina dan Pandriadi untuk langsung menembus rantai konsumen akhir.

Yursida menilai, jika model hilirisasi digital ini diadopsi secara massal di berbagai sentra produksi pangan nasional, maka ketergantungan terhadap rantai distribusi konvensional yang tidak efisien dapat ditekan. Hal ini secara otomatis akan mendukung target pemerintah dalam mengendalikan volatile foods (bahan pangan bergejolak).

Upaya modernisasi sistem tata niaga pertanian yang melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian ini juga mendapat dukungan penuh dari lintas sektoral di daerah, mulai dari pemerintah kecamatan, petugas penyuluh lapangan (PPL), hingga aparat komando kewilayahan TNI dan Polri.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026