Logo Header Antaranews Sumsel

Semarak Indonesia Open 2026 dan kerinduan pada podium juara

Rabu, 3 Juni 2026 11:37 WIB
Image Print
Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah (kiri) dan Bernadine Anindya Wardana (kanan) mengembalikan kok. ANTARA FOTO/Fauzan/tom.

Tentu tidak adil jika seluruh beban diletakkan di pundak para pemain. Mereka bertanding di bawah tekanan luar biasa. Bermain di Istora memang bisa menjadi sumber energi tambahan, namun juga berpotensi menjadi beban mental yang berat. Setiap wakil tuan rumah tidak hanya menghadapi lawan di seberang net, tetapi juga ekspektasi ribuan penonton yang dahaga akan gelar.

Publik Indonesia memang sudah cukup lama menunggu juara tuan rumah di ajang ini. Ruang kosong tersebut memiliki ukuran yang jelas: wakil Indonesia terakhir yang menjuarai Indonesia Open adalah pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo pada edisi 2021 di Bali. Jika konteksnya dibatasi khusus di Istora GBK, penantian itu bahkan lebih panjang—mengingat kemenangan terakhir Marcus/Kevin di venue ikonik tersebut terjadi pada tahun 2019.

Artinya, sudah lama telinga publik Istora tidak dimanjakan oleh sorak-sorai gelar tuan rumah di kandang sendiri.

Padahal Indonesia Open selalu memiliki tempat istimewa. Ini bukan sekadar titik dalam kalender BWF. Bagi penggemar, terutama yang hadir langsung di Istora, turnamen ini adalah momen untuk menyaksikan elit dunia sekaligus berharap wakil Merah Putih menjadi protagonis di panggungnya sendiri.

Karena itu, ketika turnamen dikemas makin semarak, harapan terhadap prestasi ikut membesar.

Musik, lampu, teknologi, sponsor, dan aktivasi penonton membuat pengalaman menonton lebih hidup. Tetapi pada akhirnya, yang paling lama diingat publik tetap momen ketika pemain Indonesia berdiri di podium tertinggi.
 

Asa itu ada

Namun, situasi bulutangkis Indonesia tidak sepenuhnya gelap. Dalam beberapa turnamen terakhir, masih ada tanda-tanda harapan yang bisa dibaca.

Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri mulai menunjukkan konsistensi di level atas. Meski masih sering kandas di babak final tanpa meraih gelar, keberadaan mereka di partai puncak membuktikan bahwa pasangan ini tetap berada dalam lingkaran elite. Final demi final adalah bukti daya saing; tantangannya kini adalah mengubah peluang tersebut menjadi titel juara.

Fikri sendiri tidak menutup mata terhadap catatan tersebut. Ia menyadari beberapa kesempatan di partai puncak belum berakhir sesuai harapan. Namun, keyakinannya tidak luntur. Bersama Fajar, ia datang ke Indonesia Open 2026 dengan bekal mental dari final Super 750 Singapore Open serta pengalaman bertarung di panggung besar.

Di sektor tunggal putra, Alwi Farhan juga memberikan sinyal positif. Kekalahannya dari Alex Lanier di semifinal Singapore Open 2026 bukanlah akhir dari segalanya. Perjalanan menuju semifinal perdana di level Super 750 adalah pencapaian signifikan. Alwi berhasil menaklukkan pemain-pemain tangguh, termasuk Kodai Naraoka, dan sebelumnya menciptakan kejutan dengan menundukkan pemain nomor satu dunia, Shi Yu Qi. Itu bukan hasil kecil.

Kekalahan dari Lanier harus dibaca sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bagi pemain muda, ukurannya bukan hanya kemampuan membuat kejutan, tetapi juga bagaimana mereka bangkit dan belajar setelah kalah dari rival seangkatan yang lebih stabil.

Alwi adalah bukti bahwa Indonesia masih memiliki bahan baku berkualitas. Fajar/Fikri adalah bukti bahwa Indonesia masih memiliki daya saing.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana agar tanda-tanda ini tidak berhenti sekadar sebagai percikan sesaat?



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026