Logo Header Antaranews Sumsel

Psikolog: Permainan tradisional jadi alternatif positif bagi anak

Senin, 13 April 2026 18:23 WIB
Image Print
Arsip - Para pelajar mengikuti lomba permainan tradisional sikidoka dalam festival permainan rakyat yang digelar Pemkot Kupang bersama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), Kupang, Jumat, (5/12/2025). ANTARA/Yoseph Boli Bataona

Kupang, NTT (ANTARA) - Psikolog Abdi Keraf menilai permainan tradisional dapat menjadi alternatif positif bagi anak di tengah penerapan PP Tunas terkait pembatasan media sosial, karena mendukung tumbuh kembang anak terutama dalam aspek interaksi sosial dan kematangan emosi.

“Bermain dan mengekspresikan diri tidak harus selalu melalui media sosial. Anak-anak bisa berkelompok, berkumpul, dan belajar bersama dalam berbagai konteks. Di sinilah permainan tradisional berkontribusi bagi tumbuh kembang anak-anak,” kata akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) itu di Kupang, NTT, Senin.

Hal itu disampaikannya berkaitan dengan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) yang membatasi penggunaan media sosial (medsos) bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Ia mengatakan kebijakan tersebut bukan untuk membatasi hak-hak maupun ruang gerak atau ekspresi anak.

Menurut dia, ada cara-cara lain yang lebih positif untuk mengekspresikan diri, salah satunya melalui permainan tradisional.

“Jangan melihat bahwa permainan tradisional yang dulu dimainkan oleh orang tua itu sudah tertinggal atau kolot. Justru di dalam permainan tradisional terdapat nilai-nilai positif, seperti interaksi sosial, kekerabatan, spiritualitas, dan moral. Ketika anak menikmati permainan itu, justru membantu mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial mereka,” jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong agar orang tua, guru, maupun komunitas lokal dapat mendorong anak untuk kembali kepada model-model interaksi sosial yang langsung.

Dengan demikian, anak-anak memiliki waktu luang untuk bersama teman-teman, sehingga mereka tidak mengakses internet, tetapi berbincang, bermain, berkumpul, dan berkelompok.

“Hal-hal ini tidak selalu bisa didapatkan melalui media sosial. Ketika anak mengakses media sosial, sifatnya lebih individual. Apa yang mereka lihat tidak selalu melalui proses penyaringan atau edukasi dari orang dewasa maupun teman sebaya. Mereka menerima sendiri, memproses sendiri. Jika tidak memiliki pemahaman yang cukup, maka stimulus yang diterima akan langsung memengaruhi mereka,” katanya.

Ia menambahkan, proses tumbuh kembang termasuk kematangan emosi dan mengontrol pikiran akan berkembang seiring dengan pengalaman langsung yang mereka peroleh.

“Sebagai seorang psikolog, saya juga berharap bahwa peraturan yang dikeluarkan ini benar-benar disosialisasikan dengan baik, sehingga semua pihak dapat menerima dan memahami tujuannya secara positif,” ujarnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Psikolog: Permainan tradisional jadi alternatif positif bagi anak



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026