Logo Header Antaranews Sumsel

Pasar otomotif Indonesia digeser Malaysia, Gaikindo soroti penurunan penjualan

Kamis, 9 April 2026 17:27 WIB
Image Print
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, memberikan paparan pada ajang Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026). ANTARA/Pamela Sakina

Jakarta (ANTARA) - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan bahwa posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN kini telah digeser oleh Malaysia.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa penurunan angka penjualan domestik dan derasnya arus impor kendaraan menjadi faktor utama pergeseran tersebut.

"Penurunan ini mengakibatkan posisi Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN digeser oleh Malaysia untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun kita selalu memimpin," ujar Kukuh di sela ajang GIICOMVEC 2026 di Jakarta, Kamis (9/4).

Penjualan kendaraan secara grosir (wholesales) di Indonesia mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya angka penjualan mampu mencapai 1,2 juta hingga 1,3 juta unit per tahun, pada 2025 angka tersebut anjlok menjadi sekitar 803 ribu unit.

Tekanan Impor CBU terhadap Industri Lokal Menurut Kukuh, salah satu penyebab utamanya adalah tingginya importasi kendaraan niaga secara utuh atau Completely Built Up (CBU). Hal ini menciptakan persaingan tidak seimbang yang menekan utilisasi pabrik di dalam negeri.

Saat ini, kapasitas produksi industri otomotif Indonesia mencapai 2,59 juta unit per tahun, namun realisasinya hanya berkisar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit. Di segmen kendaraan komersial, tingkat utilisasi bahkan lebih rendah, yakni hanya 40 persen hingga 50 persen.

"Industri kendaraan komersial terganggu karena adanya importasi dari luar. Sulit untuk bersaing dengan harga yang sangat kompetitif dari negara asal yang memproduksi dalam skala besar," tambahnya.

Dampak Ekonomi Nasional Kukuh menekankan bahwa dampak penurunan ini tidak hanya dirasakan oleh pabrikan, tetapi juga merembet ke pemasok komponen lokal, bengkel, hingga layanan purnajual. Faktor penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir pun memperparah kondisi pasar.

Padahal, industri otomotif merupakan penopang strategis ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 1,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan ketiga tahun 2025. Melalui ajang GIICOMVEC 2026, Gaikindo berharap adanya kebijakan yang lebih mendukung penguatan industri otomotif dalam negeri.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026