Logo Header Antaranews Sumsel

APKI dorong konsolidasi industri untuk perkuat daya saing dan percepat transformasi berkelanjutan

Senin, 6 April 2026 20:23 WIB
Image Print
Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata dalam acara Halal Bihalal 1447 H di Jakarta, Senin (6/4/2026). (ANTARA/HO/APKI)

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menegaskan pentingnya konsolidasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional.

Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata mengatakan industri pulp dan kertas saat ini berada pada fase krusial. Kondisi ini menuntut respons kolektif yang terkoordinasi guna menghadapi ketidakpastian geopolitik serta gangguan rantai pasok global.

“Industri tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan konsolidasi kuat antara pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan agar mampu merespons dinamika global secara adaptif,” ujar Suhendra dalam acara Halal Bihalal 1447 H di Jakarta, Senin.

Menurut Suhendra, penguatan fundamental industri di tingkat domestik harus dilakukan melalui peningkatan investasi, efisiensi produksi, serta kebijakan tata niaga yang berpihak pada industri dalam negeri. Selain itu, transformasi menuju industri hijau dan penerapan ekonomi sirkular menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menegaskan bahwa sektor pulp dan kertas merupakan industri hilir strategis dengan nilai tambah tinggi.

“Pada 2025, industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan berkontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Nilai ekspor pulp mencapai 3,6 miliar dolar AS dan kertas 4,57 miliar dolar AS,” kata Putu.

Acara Halal Bihalal 1447 H Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) yang dihadiri para pemangku kepentingan di Jakarta, Senin (6/4/2026). (ANTARA/HO/APKI)

Sektor ini juga menyerap lebih dari 280 ribu tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung. Putu optimistis prospek industri tetap solid karena meningkatnya kebutuhan kemasan dari sektor pangan dan perdagangan elektronik (e-commerce), serta tren global substitusi plastik ke material berbasis kertas.

Meski demikian, pemerintah mencatat sejumlah tantangan struktural, seperti keterbatasan bahan baku domestik, hambatan dagang non-tarif, hingga penyesuaian regulasi terkait kewajiban sertifikasi halal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah bersama pelaku industri terus mendorong penguatan ekosistem melalui konsolidasi kebijakan, inovasi bahan baku alternatif, serta pemberian insentif fiskal dan non-fiskal.

Pertemuan strategis ini turut dihadiri pimpinan berbagai asosiasi terkait, di antaranya perwakilan INA-TAPPI, APINDO, KSO SCISI, APKIDA, APKINDO, FSI International, APHI, ADMINDO, WAPINDO, FIPGB, dan AIPF.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026