
AI dan Robochat mengubah wajah telekomunikasi, dari teori ke aksi

Kecerdasan buatan telah menjadi tulang punggung dalam pengelolaan data, optimasi jaringan, dan pengambilan keputusan strategis. AI memungkinkan perusahaan telekomunikasi untuk:
• Memprediksi gangguan jaringan melalui analisis data historis dan real-time.
• Melakukan pemeliharaan prediktif untuk menghindari downtime layanan.
• Personalisasi layanan berdasarkan perilaku dan preferensi pelanggan.
Prof Dr Ahmad M. Ramli, guru besar hukum siber dan regulasi digital dari Universitas Padjadjaran, menyatakan bahwa AI akan menjadi penentu masa depan industri telekomunikasi, karena teknologi ini memungkinkan mesin untuk menjalankan tugas yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia, dengan presisi, kreativitas, dan kecerdikan. Ia juga menekankan bahwa AI akan berperan penting dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam sektor komunikasi dan migrasi digital.
Digitalisasi telekomunikasi
Digitalisasi bukan hanya soal migrasi dari analog ke digital, tetapi juga tentang transformasi budaya kerja dan model bisnis. Perusahaan telekomunikasi kini mengadopsi pendekatan digital-first, di mana teknologi menjadi inti dari setiap proses.
Dalam buku "Perkembangan Teknologi Digital untuk Berbagai Bidang Kehidupan", para penulis menyatakan bahwa Industri 5.0 adalah fase lanjutan dari digitalisasi yang menekankan kolaborasi antara manusia dan mesin. Tujuannya adalah untuk mengembalikan fungsi teknologi pada pemuliaan kemanusiaan, dengan menjunjung nilai human-centric, sustainability, dan resiliency.
Pewarta: Dr Joko Rurianto *)
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
