Apresiasi bagi "Pahlawan Pangan" saat krisis kesehatan global

id pahlawan pangan,kementan,FAO,pandemi COVID-19,petani,nelayan,krisis kesehatan global,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang,

Apresiasi bagi "Pahlawan Pangan" saat krisis kesehatan global

Poster tentang "Pahlawan Pangan" yang dilansir Badan Pangan Dunia (FAO) Indonesia saat Hari Pangan Sedunia 2020 pada 31 Oktober 2020. (ANTARA/HO-FAO Indonesia)

Indonesia merupakan negara pembuang makanan kedua di dunia yang menyia-nyiakan 300 kilogram makanan per orang setiap tahun
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo ketika membuka Jakarta Food Security Summit (JFSS) Ke-5 Tahun 2020 secara virtual di Jakarta menyatakan pengembangan sektor pangan bukan hanya untuk merespons kemungkinan terjadinya krisis pangan akibat pandemi, seperti saat ini.

"Tapi juga sejalan dengan melonjaknya populasi penduduk dunia yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan pangan," kata Presiden dalam pernyataan yang ditayangkan dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (18/11).

Namun, Kepala Negara mengingatkan bahwa pengembangan sektor pangan membutuhkan cara-cara baru yang inovatif, yang meningkatkan efisiensi proses produksi, pangan berkualitas dengan harga terjangkau, memperbaiki daya dukung lingkungan, dan yang menyejahterakan para petani.

Ikhwal pangan ini, sebagai sektor yang sangat strategis karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan sangat menentukan dalam satu bangsa, juga sudah disampaikan Presiden RI pertama Ir Soekarno atau Bung Karno, dalam petikan pidatonya yang sangat terkenal, yakni "Pangan Rakyat Soal Hidup atau Mati".

Petikan pidato itu disampaikan sehubungan dengan peringatan 60 tahun Kebangkitan Pendidikan Pertanian Indonesia pada 27 April 1952, saat acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pidato Bung Karno itu cukup panjang. Namun, ada bagian yang terkait dengan ajakan untuk menjadi "Pahlawan Pembangunan" di sektor pangan itu.

Bung Karno menyatakan, "Secepat mungkin kita harus membangunkan kadar bangsa di atas lapangan makanan rakyat, kalau mungkin laksana cendawan di musim hujan. Secepat mungkin kita membutuhkan paling sedikit 350 insinyur pertanian, 150 ahli kehutanan, ratusan ahli seleksi, ratusan ahli pemberantasan hama, ratusan ahli pemupukan, ratusan ahli tanah, ratusan ahli irigasi pertanian rakyat, ratusan ahli kehewanan, dokter-dokter hewan dan ahli-ahli pemerliharaan ternak".

"Daftarkanlah dirimu nanti menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan. Jadilah 'Pahlawan Pembangunan'. Jadikanlah bangsamu ini bangsa yang kuat, bangsa yang merdeka dalam arti merdeka yang sebenar-benarnya. Buat apa kita bicara tentang politik bebas kalau kita tidak bebas dalam hal urusan beras, yaitu selalu harus minta tolong beli beras dan bangsa-bangsa tetangga?" sebut Bung Karno.

 
Petani sedang memanen padi. Mentan Syahrul Yasin Limpo meminta petani tetap berproduksi agar tidak terjadi krisis pangan. (ANTARA/Istimewa)


Dianggap remeh

Meski Bung Karno sudah menggiatkan sejak lama mengenai "Pangan Rakyat Soal Hidup atau Mati", namun Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan masih ada anggapan remeh tentang soal mendasar ini.

"Krisis kesehatan global COVID-19 membuat kita merefleksikan hal-hal yang sangat kita hargai dan paling mendasar namun sering dianggap remeh, yakni pangan," katanya pada puncak acara dari serial kampanye Badan Pangan Dunia (FAO) Indonesia untuk Hari Pangan Sedunia 2020 pada 31 Oktober 2020.

Dalam rekaman sambutannya untuk "Food Heroes Day" melalui webinar, Mentan Yasin Limpo memberikan apresiasi kepada para "Pahlawan Pangan", yang juga dihadirkan pada acara itu.

Mereka adalah "Pahlawan Pangan" sepanjang rantai pangan mulai dari petani, nelayan, hingga penggerak komunitas dari kaum muda.

"Kita harus mendukung para 'Pahlawan Pangan' kita, yakni petani, pekerja, penggerak komunitas di seluruh sistem pangan, yang memastikan bahwa pangan terus bergerak dari ladang, laut, tambak sampai ke meja makan di tengah pandemi COVID-19," katanya.

Oleh karena itu, ia menyatakan memberikan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para "Pahlawan Pangan", khususnya para petani.

"Tantangannya memang tidak mudah, tapi kita harus terus bergerak memberikan pangan kepada lebih dari 200 juta orang di Indonesia," kata dia.

Ia menegaskan ketahanan yang melekat pada "Pahlawan Pangan" ditantang tidak hanya oleh situasi pandemi COVID-19 saat ini, tetapi juga oleh ketidakseimbangan sistem pangan.

Disebutkan dia bahwa kelaparan dan di sisi lain, obesitas, degradasi lingkungan, kehilangan dan pemborosan makanan, serta kurangnya keamanan bagi pekerja rantai makanan hanyalah sebagian dari masalah yang menggarisbawahi ketidakseimbangan ini.

Solidaritas global

Kementerian Kesehatan menyatakan tingkat obesitas di Indonesia menunjukkan peningkatan dari 14,8 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018.

Sedangkan sampah makanan, seperti dilansir Economist Intelligence Unit pada 2016, Indonesia merupakan negara pembuang makanan kedua di dunia yang menyia-nyiakan 300 kilogram makanan per orang setiap tahun.

Perwakilan FAO Ad Interim Victor Mol menyatakan dibutuhkan tindakan cerdas dan sistemik untuk menyampaikan pangan kepada mereka yang membutuhkan dan memastikan kualitas gizinya.

"Kami membutuhkan gerakan dari semua sektor untuk mengeluarkan kekuatan inovasi untuk memastikan setiap orang memiliki akses yang pangan bergizi," katanya.

Hari Pangan Sedunia, kata dia, menyerukan solidaritas global untuk membantu semua populasi dan terutama yang paling rentan untuk pulih dari krisis, dan untuk membuat sistem pangan lebih tangguh dan kuat.

Sedangkan Wakil Direktur Kesehatan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Indonesia David Stanton mengatakan pemerintah AS telah bermitra selama lebih dari 14 tahun untuk memajukan kemandirian Indonesia dalam pengendalian dan pencegahan penyakit, yang berkontribusi pada ketahanan pangan.

"Kami bangga dapat bermitra dengan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat kewaspadaan masyarakat dan kesehatan masyarakat sambil meningkatkan ketahanan terhadap wabah penyakit dan krisis ketahanan pangan untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi generasi mendatang," katanya.

Menurut Siti Soraya Cassandra, pengelola Kebun Kumara --sebuah penggerak komunitas untuk pertanian di Pulau Situ Gintung 3, Tangerang Selatan, perkotaan yang terletak di pinggiran Jakarta-- mendukung penduduk kota untuk terhubung kembali dengan alam dengan cara memperkuat pengetahuan tentang menanam makanan dari rumah.

"Bagi kami di Kebun Kumara, menanam pangan dari rumah adalah tindakan sederhana yang dapat membangkitkan kesadaran kolektif seputar pangan dan urgensi memelihara alam sebagai sumber kehidupan," kata Sandra, panggilan karibnya.

Kini, melihat fakta keras bahwa para "Pahlawan Pangan", yakni mereka yang berada di sepanjang rantai pangan mulai dari petani, nelayan, dan parapihak terkait lainnya, dan terus bergerak memberikan pangan kepada lebih dari 200 juta orang di Indonesia, sudah saatnya tidak saja diberi label "pahlawan".

Lebih dari itu, dibutuhkan dukungan kuat negara dan pemerintah dengan sistem yang kuat agar kesejahteraan mereka juga membaik.

 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar