Berniat ziarah ke makam, empat guru Yayasan Nurul Yakin tewas tenggelam di Ogan Ilir

id perahu ketek tenggelam,empat tewas tenggelam,peristiwa oi,korban tewas,perahu ketek terbalik,sungai oi,penjiarah tewas tenggelam

Berniat ziarah ke makam, empat guru Yayasan Nurul Yakin tewas tenggelam di Ogan Ilir

Korban selamat tenggelamnya perahu ketek di Desa Tanjung Atap Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, Selasa (26/5) (ANTARA/Aziz Munajar/20)

Akhirnya mesin menyala ketika perahu sudah berada di tengah sungai, naas tak lama setelah menyala perahu justru oleng dan terbalik hingga semua penumpang tercebur ke sungai
Palembang (ANTARA) - Empat orang warga di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, tewas akibat perahu mesin 'ketek' (perahu tradisional khas Sumsel) yang ditumpangi tenggelam di Sungai Ujung Tanjung Desa Tanjung Atap saat hendak menyebrang menuju makam untuk berziarah dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1441 H.

Kapolsek Tanjung Batu AKP Mujamik Harun, ketika dihubungi dari Palembang, Selasa, mengatakan empat orang tenggelam tersebut merupakan rombongan 12 orang dari Lembaga Pendidikan Nurul Yakin yang berniat ziarah ke Makam Said Umar Bagindo Sari tokoh agama wilayah setempat.

"Perahu tenggelam pukul 12.30 WIB, informasinya perahu yang ditumpangi rombongan itu kelebihan kapasitas, normalnya untuk tujuh orang tapi ditumpangi 13 orang," ujarnya.

Empat korban meninggal yakni WA (perempuan 31 tahun), R (perempuan 3 tahun), MAP (laki-laki 31 tahun) dan D (perempuan 28 tahun), sedangkan sembilan orang lainnya termasuk pengemudi ketek selamat dan telah kembali ke rumah masing-masing.

Kejadian berawal dari empat orang yang naik ke perahu tersebut dari Dermaga milik warga bernama Zainal, namun perahu berlayar dalam kondisi mesin mati dan terpaksa didayung.

Lalu setibanya di Dermaga Desa Tanjung Atap, empat orang itu meminta Zainal menaikkan delapan rekanya yang sudah menunggu, tetapi ditolak dengan alasan perahu tidak muat, Zainal justru menawarkan untuk mengangkut para rombongan dua kali penyebrangan.

Para rombongan justru menolak dan tetap meminta diantarkan satu kali perjalanan sekaligus, akhirnya dipenuhi dengan kondisi perahu masih didayung karena mesin mati.

Akhirnya mesin menyala ketika perahu sudah berada di tengah sungai, naas tak lama setelah menyala perahu justru oleng dan terbalik hingga semua penumpang tercebur ke sungai, warga setempat ramai-ramai menyelamatkan para korban.

"Sebenarnya penumpang bisa berenang, hanya saja kondisi dasar sungai ada rumput-rumput yang kalau kaki digerakkan jadi makin lengket, orang setempat menyebut kumpi," kata AKP Mujahik menambahkan.

Sedangkan jarak makam dari lokasi kejadian sekitar satu kilometer, kata dia, para korban yang meninggal rencananya akan dikebumikan esok, Rabu (27/5), serta pihak kepolisian masih mendalami kejadian naas tersebut
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar