16 titik panas terdeteksi di Sumatera, paling banyak di Sumsel

id karhutla, karhutla riau, riau, hotspot,titik panas riau,titik panas terdeteksi

16 titik panas terdeteksi di Sumatera, paling banyak di Sumsel

Dokumen - Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan "water bombing" untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumsel, Rabu (21/8/2019). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nz.)

Dari jumlah hotspot itu, paling banyak di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu lima titik panas. Diikuti Sumatera Barat empat titik, Bangka Belitung tiga titik, serta Bengkulu dan Riau masing-masing dua titik
Pekanbaru (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 16 titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera, pada Senin dan dua di antaranya berada di wilayah Provinsi Riau.

"Dari jumlah hotspot itu, paling banyak di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu lima titik panas. Diikuti Sumatera Barat empat titik, Bangka Belitung tiga titik, serta Bengkulu dan Riau masing-masing dua titik," kata Prakirawan BMKG Pekanbaru, Bibin Sulianto melalui pernyataannya di Pekanbaru, Senin.

Dia menjelaskan dua titik panas (hotspot) di Riau ini berada di atas level kepercayaan hingga 50 persen, yakni masing-masing berada di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan.

"Keduanya berada di level confidence sedang. Baru bisa diduga kuat sebagai titik api apabila hotspotnya berada di level confidence yang lebih tinggi," jelasnya.

Hingga saat ini untuk mengurangi titik panas di wilayah Provinsi Riau

pemerintah melakukan rekayasa hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membasahi gambut di daerah ini.

Hal itu bertujuan untuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan.

"Tim tetap bekerja di hari raya dengan melakukan satu penerbangan. Target penyemaian di Kabupaten Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti, menghabiskan 800 kilogram garam NaCl," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Basar Manullang dalam keterangan tertulisnya pada media di Jakarta, Senin.

TMC dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU dan mitra kerja lainnya.

Basar mengatakan rekayasa hujan tetap dilakukan karena dari rekomendasi BMKG dan BPPT, masih terdapat potensi awan hujan di atas wilayah langit Riau.

Kebakaran hutan dan lahan parah pernah terjadi di Provinsi Riau pada akhir 2019 hingga menyebabkan kualitas udara berada di level berbahaya.

Sejumlah aktivitas dihentikan karena pencemaran udara dinilai tidak aman bagi kesehatan masyarakat saat itu.

Aktivitas yang dihentikan hingga tiga pekan itu antara lain di bidang pendidikan, perkantoran diliburkan, pelayanan rumah sakit dikurangi dan jadwal penerbangan banyak yang dibatalkan akibat asap pekat menyelimuti langit Provinsi Riau.

 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar