Pasien COVID-19 di New York meninggal hampir 3.000 orang, sama dengan serangan 11 September 2001

id New York,Amerika Serikat,Corona,COVID-19,9/11

Pasien COVID-19 di New York meninggal hampir 3.000 orang, sama dengan serangan 11 September 2001

Personel Angkatan Darat Amerika Serikat berjalan di antara bilik yang sedang disiapkan dalam pembangunan fase 2 dari Stasiun Medis New York Javits di Jacob K. Javits Convention Center di tengah wabah COVID-19 di Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat, Jumat (3/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly/wsj.

Secara pribadi, sulit untuk melalui ini sepanjang hari, dan kemudian sulit untuk terjaga sepanjang malam menyaksikan angka-angka itu masuk ... dan tahu bahwa Anda bertanggung jawab
New York (ANTARA) - Negara bagian New York bersiap menghadapi peningkatan kasus baru COVID-19 pekan depan setelah mencatat lebih dari 500 kematian dalam satu hari, menjadikan total kematian di negara bagian itu hampir 3.000, atau hampir sama dengan korban tewas dalam serangan 11 September 2001 atau 9/11 di Amerika Serikat.

New York City, pusat pandemi, hanya memiliki waktu beberapa hari untuk mempersiapkan diri menghadapi wabah corona yang terburuk, kata Wali Kota Bill de Blasio, yang kotanya telah menyumbang lebih dari seperempat kematian terkait virus corona di AS. Dia memohon bantuan pemerintah federal untuk mengakhiri kekurangan staf medis dan ventilator.

"Saya pikir entah bagaimana di Washington, ada asumsi (bahwa) ada beberapa pekan untuk bersiap," kata de Blasio pada MSNBC. "Tidak ada pekan lagi. Sekarang sudah hitungan hari."

Korban tewas dalam 24 jam akibat corona adalah 562 orang, meningkatkan jumlah total korban tewas di negara bagian New York menjadi 2.935 orang, kata Gubernur Andrew Cuomo. Dia mengatakan itu adalah "peningkatan harian tertinggi dalam jumlah kematian sejak kita mulai."

Serangan 11 September menewaskan hampir 3.000 orang, kebanyakan dari mereka di World Trade Center New York City.

"Secara pribadi, sulit untuk melalui ini sepanjang hari, dan kemudian sulit untuk terjaga sepanjang malam menyaksikan angka-angka itu masuk ... dan tahu bahwa Anda bertanggung jawab atas kendali pada saat ini," kata Cuomo.

De Blasio meminta 1.000 perawat, 150 dokter, dan 300 terapis pernapasan karena jumlah kasus COVID-19 di kota itu diperkirakan akan meningkat tajam minggu depan.

New York City belum menerima pasokan hingga 3.000 ventilator yang dibutuhkan minggu depan, kata de Blasio, yang mendesak Presiden Donald Trump untuk memobilisasi tenaga medis dari militer A.S.

"Mereka tidak dimobilisasi untuk bertindak," kata de Blasio, seorang tokoh Demokrat, kepada radio WNYC. "Presiden harus memberikan perintah itu sekarang." Trump adalah seorang tokoh Republik.

New York City dan negara bagian New York telah mengeluhkan sumber daya federal yang belum mencapai mereka dengan cukup cepat, tetapi Cuomo mengatakan Trump dengan cepat menanggapi permintaan yang ia buat pada Kamis bahwa rumah sakit darurat di pusat konvensi Manhattan diizinkan untuk menerima pasien COVID- 19. Awalnya itu dibentuk hanya untuk mengobati pasien lain.

"Saya berterima kasih kepada presiden karena melakukannya. Dia melakukannya meskipun faktanya badan-badan federal tidak bersemangat untuk melakukannya, dan dia melakukannya dengan cepat," kata Cuomo. "Ini masalah besar bagi kita."

Lebih dari 25% dari 6.058 kematian akibat virus corona AS menurut hitungan Universitas Johns Hopkins pada Jumat pagi terjadi di New York City. Infeksi di Amerika Serikat berjumlah 240.000 atau sekitar 24% dari lebih dari 1 juta kasus di seluruh dunia.

Banyak korban meninggal sendirian ketika staf medis melarang kerabat untuk bersama mereka di saat-saat terakhir mereka karena takut penyebaran infeksi lebih lanjut.

Pasien meninggal dalam kesendirian

"Benar-benar tidak ada cara untuk menggambarkan apa yang kami lihat. Realitas baru kami ini seperti tidak nyata," kata Craig Spencer, direktur kesehatan global dalam pengobatan darurat di pusat medis Universitas Columbia New York, di Twitter pada Kamis malam.

Dia merujuk pada tenda-tenda yang didirikan di luar rumah sakit untuk membantu menampung peningkatan jumlah pasien. "Di tenda yang sama, saya melihat terlalu banyak rasa sakit, kesepian, dan kematian. Orang meninggal dalam sendirian."

Di negara tetangga, New Jersey, Gubernur Phil Murphy memerintahkan agar semua bendera diturunkan menjadi setengah tiang selama keadaan darurat tetap berlaku untuk menghormati mereka yang meninggal akibat virus corona. Dia mengatakan New Jersey, yang memiliki lebih dari 29.000 kasus, adalah negara bagian pertama yang mengambil tindakan seperti itu.

Data baru pada Jumat menyoroti konsekuensi ekonomi dari pandemi, membenarkan bahwa ratusan ribu orang Amerika telah kehilangan pekerjaan mereka karena pandemi. Ekonom mengatakan angka sebenarnya jauh lebih dari itu karena petak besar ekonomi AS mulai ditutup bulan lalu untuk menghindari penyebaran virus.

Sumber: Reuters

 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar