Tidak semua orang pendek itu menderita stunting

id Stunting,kota kupanh,kupang,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara sumsel hari ini, palembang hari ini

Tidak semua orang pendek itu menderita stunting

Seorang peneliti dari IDAI Cabang Jawa Timur Prof Dr. IDG Ugrasena sedang menjelaskan tentang hasil penelitiannya seputar kasus stunting yang ditemukan di NTT, di Kupang, Selasa (11/2). (Antara/Kornelis Kaha).

Kupang (ANTARA) - Peneliti masalah stunting atau kekerdilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) NTT dan Jawa Timur menyatakan bahwa tidak semua orang pendek adalah orang yang menderita stunting.

"Jadi saya mau tegaskan bahwa tidak semua orang yang terlihat pendek itu adalah orang yang menderita stunting, tetapi orang yang menderita stunting banyak yang pendek," kata Koordinator peneliti IDAI Cabang NTT Dr. dr. Simplicia Maria Anggrahini kepada wartawan di Kupang, Selasa (11/2).

Hal ini disampaikan usai mengelar pemaparan ilimiah soal hasil riset 25 dokter peneliti dari NTT dan Jawa Timur yang selama dua tahun melakukan riset seputar stunting di provinsi berbasis kepulauan itu bekerja sama dengan PT. Kalbe Nutritionals.

Menurut dia banyak orang-orang hebat di Indonesia terlihat pendek tetapi mereka justru pintar dan menjadi orang hebat di negara ini, salah satunya almarhum BJ. Habibie.

"Penyebab seseorang itu mengalami stunting diakibatkan oleh berbagai hal salah satunya adalah masalah nutrisi yang diterima oleh penderita stunting saat masih berusia balita," ujar dia.

Selain nutrisi masalah lain adalah sanitasi yang tak baik, kemudian juga kesehatan ibu saat si ibu sedang hamil serta pemberian nutrisi yang kurang saat si anak berada pada usia 1-2 tahun.

Ketua IDAI Cabang Nusa Tenggara Timur Dr. Fransiskus Taolin yang juga masuk dalam kelompok penelitian soal stunting di NTT mengatakan bahwa pencegahan kasus stunting itu harus bisa dilakukan oleh seorang ibu di usia anak di bawah dua tahun.

"Alasannya karena setelah dua tahun kita tidak bisa memperbaiki lagi tumbuh kembang anak khususnya otaknya. Sebab otak tumbuh paling pesat itu saat anak berada di usia satu hingga dua tahun," ujar dia.

Sebenarnya di usia tiga sampai dengan enam tahun tumbuh kembang anak masih bisa diperbaiki, namun lanjut dr. Taolin pertumbuhan anak itu tak seperti yang terjadi pada usai satu hingga dua tahun.

Oleh karena itu pihaknya mengajurkan kepada ibu-ibu hamil di Indonesai, khususnya NTT untuk selalu rajin memeriksakan kandungannya selama bayi itu berada dalam kandungan untuk mengecek kesehatan janin.

Tak hanya itu usai anak lahir tetap juga mengecek anak di tempat-tempat posyandu guna mengecek berat badan anak, tinggi dan lingkar kepala anak agar jika terdapat gejala stunting bisa diperbaiki.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar