Komunitas Palembang kemas edukasi sejarah lebih menarik kelangan milenial

id Komunitas cagar budaya palembang, cagar budaya, cagae budaya palembang,Sejarah palembang, arkeolog, kerajaan sriwijaya

Komunitas Palembang kemas edukasi sejarah lebih menarik kelangan milenial

Komunitas Cagar Budaya Palembang sedang melaksanakan 'kelas jalan' di Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro bersama sejarawan Unsri Syafrudin Yusuf, Minggu (26/1) (ANTARA/Aziz Munajar/20)

Palembang (ANTARA) - Komunitas Cagar Budaya Kota Palembang berinisiatif mengemas edukasi sejarah dengan konsep kelas duduk dan kelas jalan agar lebih menyenangkan serta menarik kalangan milenial dalam mempelajari sejarah.

Penggagas Komunitas Cagar Budaya (KCB) Palembang Roby Sunata, di Palembang, Minggu, mengatakan komunitas tersebut lahir atas kekhawatiran akan rendahnya dan kurang pedulinya masyarakat Palembang terhadap benda-benda cagar budaya.

"Komunitas kami bersifat nirlaba (tidak mencari keuntungan) dan tidak ada keanggotaan tetap, siapapun yang ingin bergabung kami sangat terbuka selagi niatnya serius mempelajari sejarah dan bertekad mewarisinya," ujar Robi.

Menurut dia, komunitas tersebut menjadi wadah puluhan pegiat sejarah dengan berbagai latar belakang seperti mahasiswa, pelajar, dosen, jurnalis, dan warga biasa.

Sejak dibentuk pada 2017,kata dia, setiap satu atau dua minggu sekali anggota diajak "kelas jalan" dengan mengunjungi lokasi-lokasi cagar budaya di Kota Palembang, kisah-kisah yang meliputi lokasi sejarah akan dijelaskan oleh sejarawan, arkeolog maupun peneliti yang berkompeten di bidangnya.

"Kami menyadari bahwa kalangan milenial lebih senang belajar dengan visual atau langsung melihat benda cagar budayanya, jadi kami ajak jalan, berfoto-foto, kemudian dibagikan ke media sosial," katanya.

Namun, sejak 2019 komunitasnya juga membuka "kelas duduk" yang mengusung konsep diskusi interaktif di dalam ruangan dengan menghadirkan beragam pakar budaya dan sejarah.

Kelas duduk membahas isu-isu sejarah terhangat, seperti isu hangat saat pemberitaan terkait "Kerajaan Sriwijaya Fiktif", komunitasnya mengundang langsung arkeolog senior peneliti Kerajaan Sriwijaya, Bambang Budi Utomo.

"Kelas duduk itu dibuka karena kebutuhan peserta komunitas yang ingin tahu lebih dalam terkait isu-isu sejarah," kata Roby.

Ia berharap melalui kelas duduk muncul generasi yang mau dan mampu menjaga cagar budaya bersama pemerintah agar nilai-nilai sejarah Palembang sebagai kota tertua di Indonesia tetap terlestarikan.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar