KPAI: Publik lihat masalah audisi bulutangkis secara jernih

id audisi bulutangkis djarum,perlindungan anak,kpai-pb djarum,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palemban

Arsip Foto. Pemain bulu tangkis hasil Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis mengikuti latihan di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Senin (9/9/2019). (ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto berharap publik melihat persoalan terkait Audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum secara jernih dengan mengacu pada peraturan yang berlaku agar masalahnya tidak berlarut-larut.

"Ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Pelindungan Anak dan Peraturan Pemerintah 109 Tahun 2002 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan yang harus dihormati sebagai aturan yang berlaku di Indonesia," kata Susanto di Jakarta, Rabu.

Ia menegaskan bahwa KPAI tidak melarang PB Djarum menyelenggarakan audisi bulutangkis, tapi meminta PB Djarum mematuhi ketentuan dalam Undang-Undang Pelindungan Anak dan Peraturan Pemerintah mengenai Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan untuk tidak melibatkan anak-anak dalam kegiatan yang mempromosikan dan disponsori industri rokok.

Susanto berharap pembinaan minat dan bakat anak di bidang bulutangkis bisa tetap dilakukan tanpa mengabaikan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Dengan begitu, dua-duanya bisa tercapai dan tetap dalam lingkup upaya pelindungan anak," katanya.

Susanto menerima informasi bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga akan mengundang KPAI untuk duduk satu meja dengan PB Djarum dan Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

Ia berharap pertemuan itu bisa menjernihkan masalah dan menghasilkan formula solusi terbaik yang disepakati oleh semua pihak.

"Dengan begitu, pembinaan potensi bulutangkis bisa tetap berjalan dan tidak ada aturan yang dilanggar," katanya.
 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar