Yogyakarta fokuskan ikan hias berkualitas

id ikan hias, budi daya,Balai Benih Ikan Nitikan

Seorang peternak menunjukkan ikan hias mas koki jenis "red white" di kolam budidaya ikan mas koki Desa Dampyak, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (13/8/2019). Ikan hias mas koki jenis "red cup" dan "red white" tersebut dijual mulai Rp25 ribu hingga Rp250 ribu tergantung jenis dan ukuran. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/aww.

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta melakukan berbagai perbaikan sarana dan prasarana budi daya untuk menghasilkan ikan hias berkualitas sehingga mampu bersaing dengan daerah-daerah yang dikenal sebagai sentra ikan hias, khususnya dari Jawa Timur.

“Tahun ini, kami melakukan perbaikan akuarium di Balai Benih Ikan (BBI) Nitikan yang memang difokuskan untuk budi daya ikan hias, dan melakukan penataan sub raiser di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta untuk kebutuhan expo atau pameran produk,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, perbaikan akuarium di BBI Nitikan sangat diperlukan karena fasilitas akuarium yang dibangun sekitar 2010 tersebut sudah banyak yang rusak sehingga tidak bisa lagi digunakan. Sedangkan untuk fasilitas kolam masih dalam kondisi yang baik.

Dana yang dialokasikan untuk perbaikan akuarium di BBI Nitikan mencapai sekitar Rp175 juta.

Selama ini, benih ikan hias yang dibudidayakan di BBI Nitikan cukup beragam di antaranya koi, mas koki, hingga beragam jenis ikan hias berukuran kecil seperti guppy.

“Karena lokasi pemijahan benih tidak terlalu luas, maka yang kami kejar bukan pada kuantitas produk tetapi pada kualitas produk. Harapannya, kami bisa memenuhi kebutuhan di segmen penghobi ikan hias yang memang lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Harga jualnya pun bisa lebih tinggi,” katanya.

Sugeng mengatakan cukup optimistis bahwa benih yang dihasilkan dari BBI Nitikan akan memiliki kualitas yang baik.

“Kami bersama pembudi daya ikan hias di Yogyakarta juga sudah melakukan studi banding di Blitar Jawa Timur untuk melihat budi daya ikan hias. Kami optimistis, bisa menghasilkan ikan hias yang berkualitas dan bersaing di pasar,” katanya.

Selama ini, lanjut Sugeng, pasokan ikan hias yang dijual di Kota Yogyakarta lebih banyak berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti Blitar, Tulungagung dan Kediri. Harga ikan hias dari luar daerah cenderung lebih murah karena budi daya difokuskan untuk menghasilkan ikan dalam jumlah banyak.

“Ini berbeda dengan fokus budi daya di Yogyakarta. Karena lahan sempit, maka yang kami kejar adalah pada kualitas ikan hias,” katanya.

Selain untuk kebutuhan budi daya ikan hias, BBI Nitikan juga akan dikembangkan untuk edukasi kepada masyarakat tentang budi daya ikan hias, mulai dari pembenihan hingga panen.

Sub raiser di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta yang sudah ditata akan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pameran ikan hias. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga akan menjalin kemitraan dengan kelompok pembudi daya ikan hias yang ada di Kota Yogyakarta untuk bisa menggelar pameran di lokasi tersebut.

“Yogyakarta ini memang menjadi pasar ikan hias yang cukup besar. Oleh karenanya, kami berkeinginan agar ikan hias dari Yogyakarta bisa bersaing sehingga tidak hanya diserbu ikan hias dari luar daerah,” katanya.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar