Minim perhatian keluarga bisa "membunuh" ODHA

id ODHA, HIV/Aids di Makassar

Minim perhatian keluarga  bisa "membunuh" ODHA

Diskusi isu HIV dan Aids antara pemerhati ODHA dengan media yang digelar Jaringan Indonesia Positif (JIP) di Makassar, Senin (19/08/2019). Antara Foto/Nur Suhra Wardyah

Makassar (ANTARA) - Perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) agar mampu bertahan dan tetap produktif menjalani kehidupannya sehari-hari, kata Sitti Slamah dari Yayasan Gaya Celebes.

Jika pemenuhan perhatian ini hilang, maka akan berakibat pada abainya ODHA terhadap pengobatan yang fatalnya hingga berakhir pada kematian, katanya pada diskusi yang dilaksanakan Jaringan Indonesia Positif (JIP) Makassar sebagai Jaringan dengan Orang HIV di Indonesia, Selasa.

"Berbagai ODHA yang kami dampingi tampak serius berobat dan semangat untuk menjalaninya, namun keluarga malah mematikan semangat itu," ujar Sitti Salmah.

Perempuan yang telah berkecimpung sebagai pemerhati ODHA di Sulawesi Selatan dan telah mendampingi ODHA sejak 2005 itu mengungkapkan penerimaan kondisi seorang ODHA masih sangat sulit oleh keluarga, bahkan tidak sedikit yang mengucapkan "pasrah".

Kata "pasrah" inilah yang dianggap secara tidak langsung "membunuh" para ODHA. Padahal pasca terpapar virus HIV sangat membutuhkan semangat dan dukungan dari keluarga untuk melakukan pengobatan yang harus dikonsumsi seumur hidup.

Perhatian dan semangat menyambung penghidupan merupakan hal termahal secara sosial dan psikis bagi ODHA. Suplemen obat melebihi segalanya.

"Banyak yang tidak mau menerima keadaan keluarganya. Malah yang paling sering itu hanya ingin mencari tahu asal muasal penyakitnya lalu menghakimi tanpa melakukan upaya dan memberi semangat untuk berobat," ujarnya.


Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar bahwa sebanyak 792 ODHA Lost Follow up atau tidak melanjutkan pengobatan setelah diperiksa dan dinyatakan positif HIV/AIDS serta mendapat perawatan. Salah satu penyebabnya karena tidak adanya dukungan dari keluarga.

Bukan hanya keluarga, seorang ODHA saat pertama kali mengetahui dirinya mengidap HIV lebih cenderung tidak bisa menerima kenyataan atau hasil test yang telah dilakukan. Alasan mendasarnya ialah tidak berani membuka statusnya kepada keluarga sebab masih takut tidak mendapat dukungan khususnya dalam hal pengobatanm katanya.

Ia mengatakan perlakuan diskriminasi di tengah masyarakat yang seringkali menganggap penyakit ini sebagai kutukan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi ODHA, sehingga kebanyakan dari mereka tidak berani memperlihatkan kepada khalayak bahwa pengidapnya bisa tetap produktif dan menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya.



"Banyak kok ODHA yang bisa bekerja dengan baik, punya anak, berorganisasi dan tetap hidup puluhan tahun karena disiplin minum obatnya yang sampai saat ini bisa diperoleh secara gratis di rumah sakit hingga puskesmas di Kota Makassar," tambahnya.

Data cascade pengobatan ARV dalam layanan PDP (Pengobatan dalam Pengobatan) Kota Makassar hingga Maret 2019 menunjukkan kumulatif masuk perawatan HIV/AIDS sebanyak 9.912 jiwa, sementara kumulatif memenuhi syarat penggunaan ARV yakni 6.792 jiwa.

Pengguna yang pernah memulai ARV sebanyak 5.199 jiwa tetapi yang tetap on ARV atau terus menggunakan ARV tidak lebih dari 55 persen atau hanya 2.732 jiwa. Data ODHA meninggal 823 jiwa dan berhenti menggunakan ARV tanpa informasi 72 orang.

Sementara Kordinator IU YPKDS (Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya), Tengku Rodhan juga mengingatkan bahwa jumlah data ODHA tersebut bukan hanya berasal dari Kota Makassar tetapi berbagai daerah di Sulawei Selatan.

"Ada juga ODHA yang berpindah domisili sehingga tidak diketahui lagi nasibnya bagaimana khususnya pengobatannya, tetapi case nya itu sangat sedikit. Datanya hanya sebanyak 777 yang dirujuk keluar," paparnya.
 
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar