Jamaah haji tarwiyah dinilai rentan jatuh sakit akibat kelelahan

id Haji 2019,mch 2019,haji tarwiyah,eka jusuf singka,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palembang hari in

Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia dr Eka Jusuf Singka mengatakan jamaah haji tarwiyah lebih rentan jatuh sakit akibat kelelahan. (Hanni Sofia)

Mekkah (ANTARA) - Jamaah yang memilih untuk menunaikan haji tarwiyah atau memulai puncak hajinya sehari lebih awal pada 8 Zulhijah 1440 dinilai lebih rentan mengalami sakit akibat kelelahan.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia dr Eka Jusuf Singka di Kota Mekkah, Senin, mengatakan dari hasil analisisnya di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah tingkat pasien sakit agak tinggi.

“Kenapa, karena banyak pasien sakit habis melontar apalagi yang jamaah tarwiyah,” kata Eka.

Oleh karena itu, pihaknya menekankan pentingnya hal itu agar menjadi evaluasi ke depan bagi semua pihak terkait. “Tidak lain supaya kita bisa memberikan edukasi kepada jamaah yang melakukan tarwiyah,” katanya.

Mereka lebih rentan sakit karena memulai kegiatan masyair atau puncak hajinya lebih awal.

Baca juga: Tenda jamaah Indonesia di Mina kemasukan air hujan

Tarwiyah merupakan amalan sunah dalam berhaji yang dilakukan pada 8 Dzulhijah yakni menginap di Mina sebelum wukuf di Padang Arafah. Di tempat itu jamaah menunaikan shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Mereka tidak meninggalkan Mina sebelum terbit matahari di hari Arafah.

Namun secara umum Eka menilai kesadaran untuk melakukan pencegahan sakit bagi jamaah Indonesia sudah semakin bagus.

“Sekarang ini jamaah haji promotif preventifnya sudah bagus maka alhamdulillah mereka lebih aware. Saya tadi keliling juga dari Mina Jadid ke sini saya lihat kondisinya jauh lebih bagus dan mudah-mudahan bisa terkontrol terus sampai selesai,” katanya.

Baca juga: Separuh jamaah haji Indonesia segera tinggalkan tenda Mina

Posko kesehatan di Mina kata dia, merawat lebih sedikit pasien anggota jamaah yang sakit dibandingkan tahun lalu.

“Tahun lalu full sekarang sekitar 9 orang insya Alloh kita selalu melakukan koordinasi dengan RSAS di Mina ini jadi kita akan dorong pasien yang dalam keadaan yang memang tidak bisa ditangani di tenda kita,” katanya.

Penyebab sakit kata dia, hampir seluruhnya mirip misalnya kambuhnya gangguan jantung atau paru-paru akibat perubahan cuaca yang ekstrim.

Namun ia menegaskan tahun ini angka kesakitan dan angka kematian bisa lebih ditekan tidak lain karena “awareness” jamaah haji sudah semakin bagus untuk menjaga kesehatan mereka.

Baca juga: Jamaah haji Sumsel dijadwalkan tiba 17 Agustus malam

Eka menekankan pentingnya jamaah untuk mengukur kesehatan dirinya termasuk bagi yang lansia dan sakit agar membadalkan saja lempar jumrahnya.

Ia memberikan tips agar tetap sehat dengan tetap menjaga asupan air yang cukup, minum oralit, memakai payung, dan semprotan air.

“Sebaiknya hindari beraktivitas di luar tenda saat terik matahari, pakai payung, pakai masker.Tentu saja karena tadi suhu turun besok tidak tahu tapi kita selalu aware agar jamaah haji selalu pakai payung, pake semprotan, dan gerakan minum air bersama selalu dilakukan,” katanya.

Cuaca di Mekkah dalam tiga hari terakhir tidak menentu saat biasanya panas terik tapi dalam tiga hari ini justru hujan deras terjadi.


Baca juga: Hujan deras di Mina tak surutkan jemaah Indonesia lempar jamrah
Baca juga: Saat wukuf, Padang Arafah diguyur hujan deras
Baca juga: Jamaah haji mulai meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar