Aliran modal asing masih esensial

id aliran modal asing,perang dagang,proteksionisme

Aliran modal asing masih esensial

Jenis uang dolar AS, yang merupakan salah satu instrumen valuta asing. (en.wikipedia.org)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menilai bahwa aliran modal asing masih menjadi hal yang esensial dalam mengatasi permasalahan defisit dari neraca transaksi berjalan yang kerap disorot banyak ekonom.

"Aliran modal asing menjadi salah satu poin penting dalam menopang kondisi neraca transaksi berjalan," kata Pingkan Audrine Kosijungan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Seiring dengan hal itu, ujar dia, kondisi ketergantungan negara dengan aliran modal asing turut memengaruhi spekulasi pasar mata uang yang lagi-lagi memiliki resiko untuk mengalami depresiasi.

Pembangunan infrastruktur yang masif di beberapa wilayah di Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai faktor pendorong agresifnya Indonesia dalam mengejar suntikan modal asing.

"Namun, berkaca dari keadaan neraca transaksi berjalan kita yang masih berstatus defisit, suntikan modal asing memang diperlukan untuk menopang pembangunan dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah dinamika perekonomian global," katanya.

Ia juga menyoroti bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2018 berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Indonesia pun turut terkena imbasnya dengan mengalami depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Meski demikian, lanjutnya, kondisi tersebut sudah berangsur membaik berkat kondusivitas yang berhasil dijaga oleh pemerintah dengan terus menggenjot ekspor dan melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor.

Sebelumnya, investor Eropa mengkhawatirkan dampak proteksionisme dalam berinvestasi di Indonesia yang nilainya meningkat berdasarkan hasil Indeks Kepercayaan Bisnis Kamar-Kamar Dagang Eropa (Joint European Chambers Business Confidence Index/BCI) 2019.

"Salah satu yang kami soroti adalah masalah proteksionisme yang naik 12 persen. Ini mungkin yang ada di pikiran orang soal Indonesia dan investasi, di mana proteksionisme menjadi hal yang populer dalam pengambilan keputusan," kata Sekretaris Kehormatan Kamar Dagang Inggris di Indonesia (Britcham) Nick Holder dalam pemaparan hasil survei tahunan itu di Jakarta, Jumat (9/8).

Holder menjelaskan hasil tersebut berdasarkan jawaban responden saat ditanya mengenai tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam 12 bulan ke depan. Masalah proteksionisme itu meningkat 12 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Meski menjadi salah satu jawaban tertinggi, masalah kebijakan soal tenaga kerja, serta kurangnya tenaga kerja terampil juga menjadi tantangan yang terus mengemuka dalam investasi di Tanah Air.

Sementara aturan soal lingkungan, inefisiensi birokrasi dan korupsi, dinilai masih menjadi tantangan paling besar yang sangat dikhawatirkan pebisnis.

Ketua Dewan Eurocham Indonesia Corine Top, dalam kesempatan yang sama, menjelaskan masalah proteksionisme harus menjadi salah satu perhatian pemerintah Indonesia guna meningkatkan investasi dari benua biru ke Tanah Air.

Menurut dia, investasi memberikan dampak besar tidak hanya bagi konsumsi lokal tetapi juga membuka peluang ekspor. "Untuk Indonesia menjadi hub ekspor ke seluruh dunia, investasi itu penting," ujarnya.
 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar