Rupiah diperkirakan terkoreksi lagi

id pelemahan yuan,perang dagang,rupiah melemah,dolar as,kurs,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palembang

Pegawai bank menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis diprediksi terkoreksi dipengaruhi pelemahan yuan China.

Pada pukul 10.08 WIB, rupiah bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp14.229 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.225 per dolar AS.

"Pelemahan yuan tampaknya masih akan berlangsung sebagai upaya mengkompensasi rencana penerapan tarif sebesar 10 persen untuk barang-barang impor China senilai US$300 miliar yang akan diberlakukan Presiden Trump pada 1 September mendatang," kata ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.

Dalam pekan ini pelemahan mata uang yuan China menjadi sumber tekanan baru terhadap rupiah. Pada awal pekan ini yuan menembus level 7 per dolar AS yang membuat sebagian besar mata uang Asia termasuk rupiah terbawa melemah terhadap dolar AS.

Dengan pelemahan yuan tersebut, , AS pun menuding China sebagai manipulator mata uang.

Dari domestik, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per Juli 2019 tercatat sebesar 125,9 miliar dolar AS, naik dibandingkan posisi pada Juni 2019 yang sebesar 123,8 miliar dolar AS. Peningkatan ini diperoleh dari penerimaan devisa migas dan valas lainnya, dan penarikan utang luar negeri pemerintah.

Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. BI meyakini posisi tersebut cukup untuk melakukan stabilisasi rupiah.

"Kemungkinan rupiah akan melemah menuju kisaran antara Rp14.230 sampai Rp14.250 per dolar AS," ujar Lana.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp14.231 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.275 per dolar AS.
 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar