Walhi pantau empat kabupaten di Sumsel dilanda kekeringan

id sejumlah kabupaten di susmel dialnda kekeringan, waspada kekeringan, bmkg waspada kekeringan, walhi,walhi sumsel,berita sumsel, berita palembang, anta

Ilustrasi. Salat Istisqa memohon turunnya hujan agar kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumsel dapat segera teratasi tahun lalu. (ANTARA FOTO/ Feny Selly)

Palembang (ANTARA) - Akrtivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan terus memantau empat kabupaten di provinsi itu yang  mulai dilanda kekeringan dampak musim kemarau.

"Keempat daerah yang terpantau mulai dilanda kekeringan itu yakni Kabupaten Banyuasin, Muaraenim, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Ogan Ilir," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel M Hairul Sobri di Palembang, Rabu.

Daerah yang mulai dilanda kekeringan itu, merupakan daerah yang tergolong rawan kebaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berpotensi mengakibatkan bencana kabut asap.

Melihat fakta di lapangan itu, diharapkan pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan berbagai tindakan yang dapat membantu masyarakat mengatasi masalah kekeringan agar tidak menjadi permasalahan sosial.

Selain itu melakukan tindakan yang dapat mencegah terjadinya Karhutla sehingga dapat dihindari bencana kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat, kata Sobri.

Sementara sebelumnya Kepala Stasiun BMKG Kelas I Kenten Palembang Nuga Putrantijo menambahkan sejumlah daerah di wilayah Sumsel mulai dilanda kekeringan.

Sekarang ini terdeteksi sejumlah daerah terutama yang berada di Sumatera Selatan bagian tengah seperti Kabupaten Banyuasin, Muaraenim, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Ogan Ilir.

Selain itu terdeteksi pula kekeringan di sebagian wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan OKU Timur

Wilayah yang terdeteksi mulai mengalami kekeringan itu perlu mendapatkan perhatian sehingga bisa dicegah timbulnya permasalahan sosial seperti gagal panen dan kesulitan air bersih, serta bencana kabut asap dampak Karhutla.

Ancaman kekeringan itu diprediksi meluas ke daerah lain karena suhu udara akhir-akhir ini terjadi peningkatan hingga 37 derajat celcius dan puncak musim kemarau diperkirakan pada Agustus atau September 2019.

Tingginya suhu udara tidak hanya meningkatkan potensi bahaya Karhutla, tetapi juga bisa menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat.

Dalam kondisi suhu udara yang tinggi akhir-akhir ini, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan agar tidak dehidrasi dan mengalami gangguan kesehatan lainnya.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar