BKKBN fokus tekan angka kematian ibu saat melahirkan

id angka kematian ibu,kematian ibu saat melahirkan,kematian ibu,BKKBN Sumsel,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara har

Salah satu rangkaian kegiatan Harganas 2019 di Kalimantan Selatan, "GenRe Edu", 1-6 Juli. (ist)

Palembang (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional fokus untuk menekan angka kematian ibu saat melahirkan karena trennya terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir.



Kepala BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Waspi di Palembang, Rabu, mengatakan, target ini sudah disampaikan Kepala BKKBN Pusat Hasto pada peringatan Hari Keluarga Nasional di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.



“Tren yang ada ini sungguh memprihatinkan, dan harus kita cegah bersama dengan cara menghindarkan anak-anak remaja kita dari pernikahan dini,” kata dia.



Ia mengatakan saat ini diperkirakan sebanyak 142 juta remaja putri akan melakukan pernikahan sebelum usia 18 tahun sebelum tahun 2020. Berdasarkan data terakhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional diketahui bahwa dari seribu remaja terdapat 9 persen yang sudah melahirkan di usia 15-19 tahun.



Jika ini dibiarkan maka potensi terjadinya kematian ibu saat melahirkan akan sangat tinggi, karena remaja-remaja ini belum sempurna organ reproduksinya.



Berdasarkan data terbaru diketahui bahwa jumlah remaja usia 15-19 tahun yang sudah menikah dan melahirkan masih tergolong tinggi di Sumatera Selatan karena dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan budaya setempat.



"Ini tergolong tinggi karena sasaran RPJMN seharusnya hanya 5 persen," kata Waspi.



Untuk itu, BKKBN meminta bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan sosialisasi ke masyarakat mengenai usia pernikahan ideal yakni 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.



Sementara itu, Kepala BKKBN Hasto saat berbicara pada acara GenRe Edu Camp 2019 di Kalsel belum lama ini, mengatakan generasi muda khususnya remaja usia produktif harus diberikan pemahaman mengenai pentingnya pendewasaan usia perkawinan.



“Sangat berbahaya kehamilan diusia 15-20 tahun karena sel-sel di mulut rahim, otot panggul, dan tulang panggul masih terlalu lemah untuk bisa menerima kehamilan,” kata dia.



Ini sangat rentan karena kehamilan pertama di usia muda beresiko infeksi pada saat melahirkan bahkan ancaman kematian pada ibu dan kecacatan fisik pada bayi.



Terkait pemahaman terhadap remaja ini, BKKBN telah membentuk Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) di sekolah-sekolah mulai SMP maupun SMA dalam rangka pembinaan ketahanan remaja.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar