Sembilan pintu rumah kontrakan terbakar di Muratara

id bedeng terbakar,bedeng muratara,kebakaran,sembilan bedeng terbakar,penyebab kebakaran kandang kambing

Sembilan pintu rumah kontrakan terbakar di Muratara

Rumah kontrakan berjumlah sembilan pintu terbakar di Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Sabtu (22/6) dini hari (ANTARA News Sumsel/Rahmat Aizullah/I016/19)

Muratara, Sumsel (ANTARA) - Sebuah rumah kontrakan atau bedeng terbuat dari beton terbakar di Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Sabtu dini hari.

"Kejadiannya cepat sekali, sebenarnya bedeng itu permanen, tapi bagian atapnya terbuat dari kayu, jadi api cepat membakar," kata warga setempat, Meri (40) di Lawang Agung, Musi Rawas Utara (Muratara).

Ia menyebutkan bedeng berjumlah sembilan pintu milik Mario tersebut hampir semuanya hangus terbakar, hanya tersisa satu pintu yang belum sempat dimakan api.

"Yang ludes ada delapan pintu, sedangkan satu pintu lagi masih tersisa karena baru atapnya saja sedikit terbakar," katanya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, mengingat penghuni bedeng tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka.

Belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran, namun dugaan sementara api berasal dari kandang kambing yang berada di samping bedeng.

"Di samping bedeng itu kan ada kandang kambing, jadi biasanya dihidupkan api di bawah kandang itu, kabarnya kebakaran itu berasal dari situ, kata orang-orang, saya juga tidak tahu pasti," ujarnya.

Amukan api akhirnya bisa dijinakkan setelah warga setempat berjibaku memadamkan api, serta dibantu mobil pemadam kebakaran milik pemerintah daerah setempat.

Sementara aparat kepolisian belum bersedia memberikan keterangan kepada awak media, karena pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran tersebut.

"Penyebab kebakaran masih kami selidiki, nanti kami informasi lagi," kata Kapolsek Rupit AKP Bakri Redi Cahyono.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar