Ekspor teh Indonesia berpeluang di tengah perang dagang

id Ekspor teh,perang dagang,teh,kebun teh,produksi teh indonesia,perkebunan teh

Pekerja membawa karung berisi daun teh hasil pemetikan di kawasan perkebunan teh Aia Batumbuk, Solok, Sumatera Barat, Sabtu (11/5/2019). Asosiasi dan Produsen Perkebunan Teh Indonesia menargetkan jumlah ekspor teh Indonesia tahun 2019 meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni dari 70 ribu ton menjadi 77 ribu ton. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor teh di tengah perang dagang Amerika Serikat (AS) - China, yang dimanfaatkan dengan mengikuti pameran World Tea Expo (WTE) 2019 pada 11-13 Juni 2019 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS).

Hasilnya, Indonesia meraih potensi transaksi sebesar 529 ribu dolar AS dalam pameran tersebut dan diprediksi akan meningkat.

"Perang dagang AS-China merupakan momentum yang memberikan peluang lebih besar bagi para produsen teh seluruh dunia, termasuk Indonesia,” kata Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles Antonius Budiman lewat keterangannya diterima di Jakarta, Selasa.

Hal ini, lanjutnya, dikarenakan teh hijau dan teh hitam China dengan kemasan di bawah 3 kg kemungkinan besar akan dikenakan tarif 25 persen, sehingga hal tersebut menjadi celah teh Indonesia merebut pangsa pasar teh China yang dikenakan tarif.

Paviliun Indonesia menampilkan tujuh perusahaan, untuk kategori produk teh dan minuman herbal terdiri dari lima perusahaan yaitu Harendong Tea Estate, PT Bukit Sari, PT Kepala Djenggot, Mustika Ratu, dan Rowadu.

Sedangkan, untuk kategori produk makanan ringan terdiri dari dua perusahaan, yaitu Jans Food dan Ladang Lima dengan produk-produknya yaitu sweet potato chips, salted butter cookies, Danish cookies dan vegan almond cookies.

Paviliun Indonesia mendapatkan lokasi strategis, yaitu di depan pintu masuk pameran. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri, yaitu bisa mendapatkan eksposur yang tinggi terhadap para pembeli.

Gaya hidup sehat generasi muda AS menggeser gaya konsumsi minuman soda ke produk teh siap minum.

Hal tersebut mempengaruhi perkembangan produk minuman teh yang semakin berinovasi misalnya blended tea yang menggunakan bunga sebagai campuran teh, teh rempah instan dengan berbagai kemasan yang menarik, teh untuk diet keto, chia seeds bubble tea, cider tea, sparkling tea, kombucha, dan teh rasa buah-buahan tropik seperti sirsak.

Teh kombucha mengalami pertumbuhan pesat sejak 2017 karena digadang sebagai minuman “elixir of life” yang memberikan manfaat kesehatan untuk sistem pencernaan dan detoksifikasi. Nilai pasar teh Kombucha diperkirakan mencapai 556 juta dolar AS pada 2018.

“Tidak hanya importir daun teh, industri teh siap minum, khususnya Kombucha di AS juga dapat dibidik sebagai buyer sasaran," imbuh Anton.

Pameran kali ini diikuti 260 peserta pameran (eksportir dan label privat) dari 22 negara dan dihadiri 100 ribu buyer yang terdiri atas distributor, peritel, pemilik kedai teh, pemilik restoran, pemasok jasa makanan atau restoran.

Beberapa paviliun negara selain Indonesia adalah China, Sri Lanka, India, Jepang, Taiwan, Inggris, dan Kanada.

Indonesia berada di peringkat ke-12 pemasok teh dengan nilai ekspor 7,1 juta dolar AS yang terbagi menjadi ekspor teh hitam senilai 5,1 juta dolar dan 2 juta dolar untuk teh hijau.

Pasar teh paling besar di AS adalah teh hitam dan teh fermentasi yang merupakan bahan pembuatan teh kombucha.
 

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar