Revitalisasi pabrik gula Indonesia harus disokong inovasi teknologi

id revitalisasi pabrik gula,CIPS,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palembang hari ini, jembatan ampera

Dokumentasi- Pabrik Gula . (ANTARA/Akhmad Nazaruddin)

Jakarta (ANTARA) - Program revitalisasi pabrik gula di Tanah Air tidak cukup hanya dengan membangun pabriknya secara fisik tetapi juga harus disokong dengan inovasi teknologi termutakhir guna mewujudkan dan meningkatkan produksi gula nasional bermutu tinggi.

"Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem riset yang mendukung terciptanya inovasi teknologi," kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, dengan menerapkan inovasi teknologi maka diharapkan ke depannya dapat memenuhi kebutuhan pabrik gula dalam menghasilkan gula yang berkualitas.

Untuk itu, Galuh menginginkan pemerintah dapat melibatkan antara lain universitas dalam mengembangkan ekosistem riset dan menghubungkannya dengan perkebunan tebu dan juga produsen gula rafinasi.

Tujuan kerjasama tersebut, lanjutnya adalah agar mereka dapat membantu memperbaiki kualitas sehingga nantinya gula lokal dapat bersaing secara harga dan kualitas dengan gula impor dan aturan kuota impor gula dapat dihapuskan.

"Selama ini impor gula dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang tidak bisa dicukupi oleh petani tebu dan industri gula dalam negeri. Selain itu, impor gula juga dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan kualitas gula. Saat ini, kualitas gula di Indonesia belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan industri pengguna gula, seperti industri makanan dan minuman," jelas Galuh.

Ia menyebutkan bahwa salah satu bentuk insentif yang diberikan pemerintah kepada industri gula nasional adalah melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) nomor 10 tahun 2017 memberikan Fasilitas Akses Bahan Baku Industri Gula dalam bentuk pelonggaran impor gula kristal mentah selama kurun waktu tertentu.

Namun, ujar Galuh, berbagai bentuk insentif ini juga tetap harus diikuti adanya ekosistem yang mendukung berkembangnya inovasi teknologi.

Pemerintah juga sebaiknya membantu para petani dan pabrik-pabrik penggilingan gula nasional dalam memperbaiki praktik-praktik budidaya tebu yang mereka lakukan. Bantuan yang dimaksud harus disertai dengan target yang jelas dan spesifik terhadap peningkatan produktivitas dan perbaikan tingkat rendemen.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengundang pemerintah Brasil untuk melakukan investasi di sektor pertanian di tanah air salah satunya pengembangan industri gula.

Hal itu menjadi salah satu pembicaraan antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan Menteri Pertanian Brasil Tereza Cristina di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, 20 Mei 2019.

Menurut Amran, Brasil sebagai negara produsen gula terbesar di dunia diharapkan segera menjalin kerjasama dengan Indonesia, terutama investasi dan alih teknologi pengolahan pabrik gula di tanah air.

"Kita diskusi khususnya untuk pabrik gula, Menteri Brasil mengatakan terbuka untuk pengalaman pengolahan dan siap untuk membantu. Dan kita tahu negara produsen gula terbesar di dunia adalah Brazil. Mereka ingin mentransfer ilmunya ke Indonesia," katanya.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar