Pertumbuhan ekonomi Sumsel melambat triwulan I/2019

id pertumbuhan ekonomi,bank indonesia,bi,bi sumsel,bank indonesia sumsel,inflasi,lebaran ,sembako ,pangan,ekonomi

Arsip - BPS merilis data pertumbuhan ekonomi Sumsel di Kantor BPS Sumsel, Palembang, Rabu (6/2). (Antara News Sumsel) (Antara News Sumsel)

Palembang (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan melambat pada triwulan I/2019 jika dibandingkan periode sebelumnya karena masih rendahnya serapan anggaran APBN dan APBD oleh pemerintah.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Yunita Resmi Sari di Palembang, Sabtu, mengatakan, walau pertumbuhan ekonomi Sumsel tercatat 5,68 persen namun angka ini menjadi yang tertinggi di Sumatera. Bahkan secara nasional, mampu berada di atas rata-rata yakni 5,07 persen.

“Secara keseluruhan kami melihan ini capaian yang cukup baik, apalagi diketahui di tengah pertumbuhan yang masih tinggi ini tetap dibarengi oleh inflasi yang terkendali,” katanya.

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan dipastikan akan terdongrak pada triwulan II karena adanya beberapa komponen pendorong seperti pemberian gaji ke-13 untuk menyambut Lebaran ke kalangan Aparatur Sipil Negara, dan performa ekspor yang diperkiarkan meningkat.

Ia melanjutkan, komoditas utama ekspor Sumsel yakni karet saat ini mengalami peningkatan dari sisi harga dan volumenya. Sedangkan untuk komoditas lainnya yakni batubara, meski mengalami penurunan tapi tetap memberikan sumbangsih yang cukup besar pada perekonomian daerah.

Terkait inflasi, hingga April 2019 tercatat mencapai 1,90 persen (year on year) atau masih dibawah angka rata-rata nasional 2,4 persen (year on year).

“Ini yang saya katakan suatu perpaduan yang baik antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi,” kata dia.

Sepanjang April 2019, diketahui, terdapat lima komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi yakni bawang merah, bawang putih, jeruk, daging ayam ras, dan sayur-mayur.

Secara regional di wilayah Sumatera, inflasi selama April ini membuat Sumsel berada pada urutan kedua setelah Riau yang berhasil menekan hanya 1,6 persen (year on year).

Namun, pada bulan berikutnya yakni bulan Mei sungguh patut diwaspadai karena terdapat hari besar keagamaan yang biasanya ditandai kenaikan harga kebutuhan pangan.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar