"Si Amoi" bawang putih yang bikin heboh

id bawang putih,harga bawang putih,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, jembatan ampera, wong palembang, wi

Warga menunjukkan kualitas bawang putih yang dijual saat operasi pasar. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj.

....Bawang merah juga naik Rp40.000 per kilogram karena stok sudah kurang sejak sebelum puasa, banyak pembeli mengeluh minta diturunkan....
Palembang (ANTARA) - Masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan, khusus para pedagang dan emak-emak dalam sepekan bulan Ramadhan ini dikejutkan dengan melambungnya harga komoditas bawang putih dari Rp30.000 per kilogram, menjadi Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

Padahal sepekan atau jauh sebelum memasuki bulan suci Ramadhan para pejabat penting di negeri ini mulai dari kementerian yang berkompeten dan bertanggung jawab mengenai hal tersebut hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla bersuara lantang bahwa persediaan "si Amoi" bawang putih ini mencukupi kebutuhan masyarakat.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah mengambil langkah antisipasi dengan mengimpor jutaan ton bawang putih dan melakukan operasi pasar, namun dinilai itu tidak efektif.

Persediaan memang cukup dan pasokan ke pasar-pasar tradisional lancar, namun harga tidak terkendali. Apa penyebabnya?  tidak menutup kemungkinan permainan para spekulan untuk mengeruk keuntungan, tapi di sisi lain membuat rakyat kecil menjerit.

Inilah yang selalu menjadi problem di Indonesia ketika menjelang atau pada hari-hari tertentu seperti puasa dan Lebaran, ada-ada saja pemicu terutama untuk kebutuhan pokok seperti cabai, daging, telur, beras, minyak goreng, dan tepung.

Kali ini muncul pula persoalan menghebohkan yaitu harga bawang putih. Timbul pertanyaan mengapa selalu harga komoditas pertanian itu yang selalu memicu kehebohan? Bukankah negeri ini memiliki kekayaan dan kesuburan tanah yang luar biasa dianugrahi Tuhan Yang Esa dibanding dengan negara lain.
 
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahja Widayanti memantau stok bawang putih di ritel modern. (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perdagangan)


Mengutip lirik lagu Koes Plus saking suburnya tanah negeri ini "Tongkat dan Kayu pun tumbuh Jadi Tanaman". Artinya negeri ini kaya, subur, dan makmur. Tinggal kemauan atau dukungan pemerintah berupa modal dan pembinaan kepada petani di sentra-sentra produksi, khususnya petani bawang putih dan bawang merah.

Salah seorang pedagang di Pasar Tradisional Kamboja Kota Palembang, Nora mengatakan kenaikan harga bawang dipicu stok dari Pasar Induk Jakabaring dan sejumlah daerah penyuplai yang tidak mencukupi.

"Bawang merah juga naik Rp40.000 per kilogram karena stok sudah kurang sejak sebelum puasa, banyak pembeli mengeluh minta diturunkan," ujar Nora.

Menurut dia, kenaikkan harga bawang putih saat Ramadhan menyulitkan masyarakat karena hampir semua kuliner di Kota Palembang seperti pempek, model, tekwan dan laksa membutuhkan rempah bawang putih dalam proses pembuatannya.

Sementara produksi makanan tradisional Palembang dipastikan akan semakin meningkat terutama memasuki Ramadhan.

Ia menilai operasi pasar murah dari Dinas Perdagangan setempat kurang membantu masyarakat dalam memperoleh bawang putih dengan harga murah, terutama pedagang kudapan berbuka (takjil) musiman.

"Yang penting stoknya cukup baru harga bisa turun, karena pasar murah sifatnya hanya meredam saja," lanjutnya.

Pedagang lainnya di Pasar KM 5 Palembang, Tiara, mengatakan harga bawang putih dimungkinkan tembus Rp100.000 per kilogram, jika pemerintah tidak cepat menyeimbangkan antara stok dan permintaan yang terus meningkat.

"Permintaan bawang dan lain-lain memang lagi banyak dan kenaikan ini selalu terjadi saat puasa, lalu biasanya naik lagi jelang lebaran, kami berharap stok bisa terjaga," jelas Tiara.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Sumatera Selatan Yustianus, mengatakan operasi pasar murah di kabupaten/kota tujuannya memang untuk meredam kenaikan harga-harga bahan pokok terutama bawang putih.

"Khusus Kota Palembang kebutuhan bawang putih 10 ton per hari, maka kami terus suplai bawang lewat pasar murah agar masyarakat terbantu," kata Yustianus.

Ia meminta masyarakat tidak khawatir karena pemerintah berupaya mengatasi gejolak bawang putih dengan memberikan izin impor kepada delapan perusahaan dengan kuota 520.000 ton yang siap membanjiri pasar-pasar tradisional, termasuk Kota Palembang.

Lonjakan harga yang sama di Sumsel juga terjadi di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Kabupaten Musi Rawas Utara, dan kabupaten lainnya.

Black list importir

Dampak dari gejolak harga bawang putih itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuat "daftar hitam' (black list) atau pelarangan terhadap 56 importir bawang putih yang tidak menaati peraturan, seperti melakukan permainan harga dan tidak melakukan wajib tanam.

"Kami sudah black list 56 perusahaan yang selalu mempermainkan harga, sehingga nantinya harga komoditas bawang putih stabil," kata Amran usai melakukan operasi pasar komoditas bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, Minggu.

Amran menyebutkan importir yang masuk dalam daftar hitam terdiri atas 41 importir dilarang mengimpor pada tahun 2019 dan 15 importir pada tahun 2018 yang tidak menaati kebijakan wajib tanam lima persen dari total impor. Mayoritas importir yang masuk daftar hitam berdomisili di Jakarta, Surabaya dan Medan.

Pada operasi pasar di Pasar Induk Kramat Jati ini, Mentan menyediakan stok bawang putih sebanyak 115.000 ton dari kebutuhan sekitar 50.000 ton selama Ramadhan.

Bawang putih yang diimpor dari China ini merupakan realisasi dari persetujuan impor yang diberikan Kementerian Perdagangan kepada importir dengan total volume 115.000 ton.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, menambahkan ketersediaan bawang putih nasional saat ini berangsur normal karena bawang putih impor sudah mulai masuk ke pasaran.

Selain dari pasokan 115.000 ton yang sudah masuk, Kementerian Pertanian juga sudah menerbitkan Rekomendasi Izin Produk Hortikultura (RIPH) kepada 19 importir dengan volume pengajuan 245.000 ton bawang putih.

"Terdiri dari tahap pertama pada akhir Maret 2019 sebanyak delapan importir setara 120.000 ton dan tahap dua sebanyak 11 importir setara 125.000 ton," kata Suwandi.

Seiring proses menuju swasembada, Kementerian Pertanian mulai menyaring dan memilah importir yang konsisten menjalankan wajib tanam.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan luas tanam bawang putih tahun 2018 mencapai 8.000 ha lebih, naik sekitar 400 persen dari luas tanam sebelumnya yang bertengger di angka 2.000 hektare setahun.

Sampai 2020 ditargetkan luas tanam bawang putih mencapai 20.000-60.000 hektare. Puncaknya pada 2021, direncanakan penanaman seluas lebih dari 80.000 hektare untuk memenuhi kebutuhan bawang putih nasional.

Sentra-sentra penanaman tersebar di 110 lebih kabupaten se-Indonesia, di antaranya Aceh Tengah, Humbang Hasundutan, Solok, Kerinci, Cianjur, Majalengka,Tegal, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Karanganyar, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Tabanan, Lombok Timur, Bantaeng, Enrekang hingga Minahasa Selatan.

Sedangkan Kementerian Perdagangan sebelum terjadi lonjakan harga itu menyatakan produk bawang putih impor siap membanjiri pasar tradisional di Tanah Air untuk menurunkan harganya, yang kini masih tinggi di kisaran Rp48.000-Rp50.000 per kilogram.

Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan Srie Agustina usai memantau operasi pasar bawang putih di Pasar KM 5, Palembang, Minggu, mengatakan pemerintah sudah mengeluarkan persetujuan impor bawang putih sebanyak 115.000 ton untuk delapan pengimpor yang secara bertahap barangnya telah tiba di Indonesia.

"Saat ini, kapal-kapal pengangkut bawang putih impor ini sudah masuk Indonesia. Secara bertahap akan tiba semua sesuai surat izin," katanya.

Ia mengatakan pasokan 115.000 ton itu diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga beberapa bulan ke depan. Seratusan ton bawang putih ini secepatnya akan dikirim ke pasar-pasar tradisional untuk memenuhi gudang-gudang distributor yang mulai kosong.

Selain itu, juga akan dilakukan operasi pasar, yang khusus menyasar pedagang-pedagang pengecer bawang putih dengan ketentuan mereka harus menjual seharga Rp30.000 per kilogram karena membeli ke pemerintah hanya Rp22.500 per kilogram.

Dengan upaya masif ini, Srie optimistis harga bawang putih akan kembali normal di kisaran Rp30.000 kilogram pada awal Ramadhan.

Ketika ditanya penyebab kenaikan harga bawang putih ini, Srie mengatakan salah satunya karena kebutuhan bawang putih periode Januari-April 2019 ternyata tidak bisa ditutupi oleh kelebihan pasokan impor tahun lalu.

Pada 2018 pemerintah mengimpor 450.000 ton bawang putih dan ternyata masih ada kelebihan. Kelebihan itu diperkirakan oleh pemerintah dapat mencukupi kebutuhan Januari hingga April 2019, namun para distributor besar tidak menginginkan gudang-gudangnya kosong sehingga tidak semuanya dilepas ke pasar.

Berkaca dari hal ini, lanjut Srie, pemerintah sudah memutuskan bahwa pada 2019 dinaikkan kuota impor bawang putih menjadi 520.000 ton.

Optimisme Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan yang sebelumnya mendengungkan tidak terjadi lonjakan harga yang begitu tinggi, justru dipatahkan dengan fakta yang terjadi sesungguhnya pada minggu pertama Ramadhan. Harga bawang putih pun melambung tinggi antara Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. "Si Amoi" bawang putih memang menghebohkan.




 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar