Gempa bumi 5,0 SR guncang Deiyai, tidak berpotensi tsunami

id Gempa 5,gempa bumi,gempa guncang deiyai,tidak berpotensi tsunami,tsunami,bmkg,info gempa

Lokasi terjadinya gempa 5,0 SR di Kabupaten Deiyai. (ANTARA/Dokumentasi BMKG Wilayah V Jayapura)

Jayapura (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai Besar Wilayah V Jayapura menyatakan Kabupaten Deiyai diguncang gempa bumi dengan kekuatan 5,40 Skala Richter, Sabtu, sekitar pukul 02.41 WIT, akan tetapi tidak berpotensi tsunami.

Kepala Balai Besar BMKG Wilayah V Jayapura Petrus Demon Sili di Jayapura, Sabtu, mengatakan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 4,05 Lintang Selatan (LS) dan 136,32 Bujur Timur (BT), atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 14 km arah barat laut Kabupaten Deiyai, Propinsi Papua pada kedalaman 10 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi ini termasuk dalam klasifikasi gempa bumi dangkal akibat aktivitas Lajur Anjak Pegunungan Tengah," kata dia.

Hasil analisis mekanisme sumber, kata dia, menunjukkan bahwa gempa bumi itu dipicu oleh penyesaran naik (trust fault), sedangkan hasil pemodelan pun menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami.

"Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Enarotali II-III MMI, di mana hingga kini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut," ujar dia.

Dia menjelaskan bahwa hingga pukul 09.43 WIT, masih monitoring oleh BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

"Untuk itu, kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata dia.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar dapat memastikan informasi resmi yang mereka peroleh hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (www.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (iOS dan Android @infobmkg).
 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar