Yuassa belum beri kepastian investasi pabrik ban di Sumsel

id ban,investor,pabrik ban,ban vulkanisir,karet,karet petani,getah,karet alam,karet sintetis,ekspor,hulu,hilir,pertanian,pe

Petani karet di Sumbawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan menyadap getah dari tanaman karet. (Antara News Sumsel/Feny Selly/17)

Palembang (ANTARA) - Perusahaan produsen aki mobil dan motor, PT Yuassa Battery Indonesia hingga kini belum memberikan kepastian mengenai rencananya ingin membangun pabrik ban di Provinsi Sumatera Selatan.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian di Palembang, Jumat, mengatakan calon investor ini dalam pertemuan dengan pemerintah provinsi pada pertengahan Januari menyatakan berminat, namun akan mempelajari terlebih dahulu segala sesuatunya terkait suplai bahan baku, kualitas karet dan peluang pasar.

"Hingga kini Pemprov Sumsel masih menunggu kepastian, kami berharap mereka (PT Yuassa Battery) bener-benar merealisasikan rencananya," kata Rudi.

Rudi menjelaskan Sumatera Selatan memiliki program membenahi sektor perkebunan karet bukan hanya dari sisi hulu tapi juga dari sisi hilirnya.

Untuk sisi hulu, pemprov gencar mendorong perbaikan kualitas karet petani melalui pelatihan-pelatihan teknis dan perbaikan penyerderhanaan rantai perdagangan melalui sistem lelang 4S yakni satu harga, satu mutu, satu sistem, satu desa untuk mendorong harga jual di tingkat petani. Selain itu, pemprov juga didorong peremajaan lahan dan intensifikasi lahan perkebunan.

Sementara di sektor hilir, Pemprov Sumsel terus menggaet investor untuk menanamkan modal untuk pembangunan pabrik ban, mulai dari pabrik ban vulkanisir dengan investasi hanya Rp5 miliar  hingga Rp10 miliar, hingga pabrik investasi pabrik ban kendaraan bermotor skala besar dengan nilai investasi ratusan miliar.

"Pembenahan dilakukan menyeluruh baik di hulu maupun di hilir, ini tak lain untuk mendongrak harga di tingkat petani dengan cara melakukan penyerapan sendiri (tidak diekspor)," kata Rudi.

Seperti diketahui, harga karet di tingkat petani anjlok sejak tahun 2013 lantaran jatuhnya harga di pasar ekspor sehingga harga hanya berkisar Rp7.000/kg (kadar karet kering 40 persen) atau jauh dari harga ideal di atas Rp12.000 per kg.

Upaya-upaya penyerapan dalam negeri mulai dilakukan seperti penggunaan karet dalam campuran aspal. Namun, penyerapannya masih sangat rendah karena produksi karet alam Sumsel mencapai 1.053.272 ton per tahun dari areal seluas 1,3 juta hektare.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia A Aziz Pane yang diwawancarai Antara beberapa waktu lalu mengatakan pembangunan pabrik ban di Sumsel kurang relevan karena terdapat 72 persen bahan penolong harus diimpor, sisanya yang hanya karet alam.

Ia menilai, yang lebih masuk akal dari sisi bisnis yakni membangun pabrik ban vulkanisir yakni memanfaatkan ban yang sudah gundul untuk dilapisi lagi atau divulkanisir (dibuatkan kembali alur bannya) sehinga menjadi seperti baru lagi.

"Ban vulkanisir ini yang lebih menarik bagi pengusaha, karena teknologinya sederhana dan modalnya tidak besar. Beda jika bangun pabrik ban skala besar, selain modalnya besar juga membutuhkan komponen impor berupa bahan kimia sekitar 72 persen," kata dia.
 

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar