Perajin tenun suku Badui mendunia terinspirasi perjuangan Kartini

id tenun,perempuan badui,perajin tenun badui,suku badui,tenun badui mendunia

Perajin tenun suku Badui mendunia terinspirasi perjuangan Kartini

Seorang perempuan tengah merajut benang untuk memproduksi kain tenun Badui dengan menggunakan peralatan secara manual (ist)

Lebak (ANTARA) - Perajin tenun yang dikerjakan kaum perempuan suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mendunia setelah terinspirasi perjuangan Kartini dan setara dengan kaum laki-laki dan tidak ada larangan adat.

"Kaum perempuan Badui boleh bekerja di ladang pertanian juga perajin tenun," kata Kepala Seksi Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Sutisna di Lebak, Senin.

Pemerintah daerah mengapresiasi kaum perempuan Badui tidak kalah dengan kaum laki-laki. Untuk membantu ekonomi keluarga, maka perempuan Badui bekerja di ladang pertanian huma juga menjadi pelaku perajin tenun.

Mereka bekerja sebagai wujud perjuangan Kartini yang diperingati setiap 21 April.

Bahkan, produksi tenun Badui mendunia setelah desainer muda Amanda I Lestari menyertakan tenun Badui pada ajang peragaan busana tingkat dunia, London Fashion Week di London, Inggris.

Saat ini perajin tenun Badui di kawasan masyarakat tradisional itu berkembang hingga ratusan perajin. Kehadiran perajin tenun Badui itu tentu menyumbangkan pendapatan ekonomi dan menyerap lapangan pekerjaan.

"Kami terus membina sebanyak 200 perajin Badui dengan pelatihan-pelatihan juga menyalurkan bantuan peralatan produksi," katanya.

Munah (45) seorang perajin Badui mengatakan dirinya memproduksi kerajinan tenun guna membantu pendapatan ekonomi keluarga.
Sebab, pendapatan dari ladang pertanian belum dijadikan andalan ekonomi. Karena itu, dirinya mengembangkan produksi tenun sejak usia gadis hingga berkeluarga.

Produksi kerajinan tenun itu beraneka corak dan motif, di antaranya poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib, capit hurang, susuatan, suat songket, smata (girid manggu, kembang gedang, kembang saka).

Selain itu juga motif adu mancung, serta motif aros yang terdiri dari aros awi gede, kembang saka, kembang cikur, dan aros anggeus.
Motif tenun Badui itu juga memiliki makna tersendiri disesuaikan dengan budaya mereka.

Selama ini, pertumbuhan ekonomi masyarakat Badui cukup membaik dengan berkembangnya perajin tersebut. Adapun, harga tenun Badui bervariasi mulai harga Rp150.000 sampai Rp1,5 juta per kain.

Produksi kain Badui juga banyak permintaan dari berbagai daerah di Tanah Air dan manca negara melalui pemasaran online.

"Kita sebagai kaum perempuan tentu memiliki harapan maju guna mewariskan perjuangan Kartini, meski masyarakat Badui itu tradisional," katanya.

Neng (40) seorang perajin tenun Badui warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak mengatakan selama ini, banyak wisatawan yang membeli tenun Badui sekadar untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Meningkatnya permintaan tenun Badui setelah beberapa kali para perancang busana menampilkan fashion kain Badui di tingkat nasional hingga internasional.

Para perajin kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual. Biasanya, kata dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

"Kami memproduksi kerajinan tenun itu guna membantu ekonomi keluarga," katanya menjelaskan.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar