PDIP: Jokowi Pemimpin yang optimistis lihat masa depan

id Hasto Kristyanto,sekjen pdip,Joko Widodo,capres ri,safari kebangsaan,rohaniwan, akademisi,produksi petani NTT,berita sumsel, berita palembang, antara

PDIP: Jokowi Pemimpin yang optimistis lihat masa depan

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristyanto. (ANTARA / Maria Rosari)

Maumere (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristyanto mengatakan sosok Joko Widodo (Jokowi) adalah pemimpin yang tepat bagi Indonesia karena yang bersangkutan optimistis dalam melihat masa depan.

"Orang melihat Nusa Tenggara Timur (NTT) kadang hanya dari satu sisi yaitu udara yang panas, namun Jokowi melihat aspek yang lain beliau optimistis melihat masa depan NTT," ujar Hasto dalam safari kebangsaan di Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu.

Hasto menilai Jokowi adalah sosok yang mampu melihat potensi dari suatu daerah.

"Jokowi tahu potensi NTT, dia paham posisi geopolitik yang berbatasan dengan Australia ini memiliki keuntungan bagi Indonesia, didukung pula dengan alam NTT yang begitu indah," ujar Hasto.

Jokowi juga dinilai Hasto mampu melihat potensi sumber daya manusia di wilayah NTT, yang terkenal dengan kecerdasan sehingga mampu membangun bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh pergerakan nasional baik yang merupakan rohaniwan, akademisi, hingga politisi, yang berasal dari NTT, jelas Hasto.

"Oleh sebab itu Jokowi berusaha memunculkan potensi tersebut dengan dua kunci, yang pertama adalah infrastruktur sehingga beliau membangun bendungan-bendungan dan tol laut," ujar Hasto.

Sebanyak tujuh bendungan yang dibangun Jokowi dalam kurun waktu empat tahun terakhir, merupakan infrastruktur yang dibangun Jokowi untuk mengatasi masalah kekeringan di NTT sehingga dapat membantu produksi petani NTT.

"Kalau mau menolak impor pangan, maka harus disertai dengan upaya-upaya strategis dan konkrit, bagaimana menyejahterakan rakyat dan petani," jelas Hasto.

Hasto menyebutkan bila produksi sumber pangan di NTT dapat dimajukan, maka Australia tidak perlu mengimpor bahan pangan dari Thailand, karena dapat mengimpor dari NTT yang lokasinya lebih dekat dengan Australia.

"Kunci yang kedua adalah peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia," pungkas Hasto.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar