Sebahagian kecil milenial berhenti kerja karena nikah dengan teman sekantor

id BPJS Ketenagakerjaan,Naufal Mahfudz,penghargaan Positive Organizational Award,zaman Milenial,BCA, PT Semen Indonesia, PTPN IV, Nutrifood, Garuda Indon

Sebahagian kecil milenial berhenti  kerja karena nikah dengan teman sekantor

Buku nikah. (ANTARA/Syaiful Arif/ZK)

Jakarta (ANTARA) - Jumlah pekerja usia milenial yang keluar dari BPJS Ketenagakerjaan relatif kecil, yakni satu dari 78 persen pekerja usia milenial yang sebagian besar mundur karena alasan menikah dengan teman kantor.

Direktur SDM dan Umum BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz usai menerima penghargaan Positive Organizational Award 2019 di sebuah hotel di Jakarta Selatan, Kamis malam, mengatakan saat ini terdapat 5.949 karyawan di badan publik tersebut yang tiga persen di antaranya dari generasi lebih muda, yakni Gen Z.

Naufal memperkirakan dengan terbitnya aturan yang membolehkan nikah dengan teman kerja, mungkin jumlah mereka yang mundur akan lebih kecil lagi.
Direktur SDM dan Umum BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz menerima penghargaan Positive Organizational Award 2019 di Jakarta, Kamis malam (28/3/2019). (ANTARA News/Erafzon SAS)

Dalam diskusi di acara pemberian penghargaan tersebut muncul penilaian yang didasarkan pada pengalamaan bahwa kaum milenial rata-rata tidak betah kerja lama di suatu tempat. Biasanya mereka hanya bertahan 2-3 tahun, setelah itu mencari kesempatan atau pengalaman kerja lebih baik di tempat lain.

"Ada anggapan, jangan berharap mereka akan bertahan di satu tempat kerja, karena itu perusahaan harus bersiap untuk mencari penggantinya," katanya.

Ketika ditanya tentang faktor pendapatan yang menjadikan milenial BPJS Ketenagakerjaan betah bekerja, Naufal mengatakan jika dibandingkan dengan perusahaan sekelas, upah yang diterima milenial di BPJS Ketenagakerjaan tidak terlalu menonjol.

"Mungkin lingkungan kerja, suasana yang dibangun menjadikan mereka betah karena disesuaikan dengan kondisi mereka. Dalam pertemuan pekerja, mereka dibaurkan antara 'baby bomers', Gen X, Y, dan Z agar menyatu," ujar Naufal.

Dalam penganugerahan yang diselenggarakan Majalah SWA, Asosiasi Psikologi Positif Indonesia(AP2I), dan Himpunan Psikologi Positif Indonesia itu, menorehkan catatan yang memuaskan bagi BPJS Ketenagakerjaan dalam implementasi "positive organization" dengan menitikberatkan pada penilaian "positive meaning", "communication", "relationship", "culture", "engagement", dan "accomplishment".

Dalam aspek-aspek tersebut, BPJS Ketenagakerjaan secara keseluruhan telah melampaui tiga dimensi batas minimal Positive Organizational dengan terintegrasi strategi dan sistem, karena itu BPJS Ketenagakerjaan berhak diganjar 3 Stars Thriving Positive Organization Award.

Ajang penganugerahan itu juga diikuti beberapa instansi, antara lain BCA, PT Semen Indonesia, PTPN IV, Nutrifood, Garuda Indonesia, dan PT Pupuk Kaltim.

Naufal Mahfudz menyampaikan apresiasinya kepada seluruh insan BPJS Ketenagakerjaan untuk raihan-raihan positif dalam implementasi pencapaian tujuan organisasi tersebut.

"Capaian yang kami raih kali ini tentunya merupakan hasil kerja keras dan komitmen dari seluruh insan BPJS Ketenagakerjaan. Saya berharap budaya kerja yang selama ini menumbuhkan nilai positif agar dipertahankan terus dan semakin ditingkatkan guna melahirkan inovasi-inovasi progresif bagi kemajuan institusi," katanya.

Dirinya menambahkan bahwa hal tersebut tidak berdasarkan asumsi saja, namun juga diperkuat dengan penghargaan-penghargaan yang telah diraih.

“Salah satunya adalah penghargaan Positive Organizational Award 2019 yang malam ini diraih," tutur dia.

Ia mengemukakan penghargaan itu memasuk kinerja pada masa mendatang.

“Semoga apresiasi yang kami raih ini dapat terus memotivasi dan memacu agar tetap berkarya dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya untuk melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh pekerja Indonesia," kata Naufal.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar