Penelitian: Masyarakat dukung perluasan peringatan kesehatan bergambar

id Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia,kesehatan masyarakat,negara berkembang,berita sumsel, berita palembang, ant

Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Sebuah penelitian yang dilakukan Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) menemukan dukungan masyarakat sangat besar untuk memperluas ukuran peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok.

"Sebanyak 80,90 persen responden mendukung peningkatan menjadi 90 persen dan 64,10 persen mendukung peningkatan menjadi 75 persen," kata peneliti TCSC-IAKMI Ridhwan Fauzy melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.

Ridhwan mengatakan survei dilakukan pada September 2017 hingga Desember 2017 di 16 kota besar, yaitu Jakarta, Serang, Bogor, Semarang, Magelang, Jember, Kediri, Padang, Palembang, Medan, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Menado, Denpasar dan Mataram terhadap 5.349 responden.

Penelitian tersebut bekerja sama dengan 14 universitas dan satu organisasi kemasyarakatan untuk persepsi masyarakat dan tingkat dukungan masyarakat terhadap upaya meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar.

"Mayoritas responden, yaitu 79,2 persen, menilai peringatan kesehatan bergambar dengan ukuran 90 persen amat sangat dan sangat efektif dalam menginformasikan bahaya rokok kepada masyarakat," jelas Ridhwan.

Peringatan kesehatan bergambar yang berlaku di Indonesia saat ini adalah 40 persen dari permukaan kemasan rokok bagian depan dan belakang.

Ridhwan mengatakan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan mengamanatkan luas peringatan kesehatan bergambar 75 persen pada 2015-2019.

"Sayangnya, hingga kuartal pertama 2019, belum ada tanda-tanda akan ada perluasan dimaksud," ujarnya.

Pada 2014, enam bulan setelah pelaksanaan peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok dilaksanakan pertama kali, penelitian yang dilakukan TCSC-IAKMI menunjukkan 78,8 persen responden menginginkan perluasan peringatan kesehatan bergambar.

Dalam pemaparan hasil penelitian yang dilakukan Kamis (14/3), Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan dr Rizkiyana mengatakan perlu ada peningkatan kualitas peringatan kesehatan bergambar.

"Peringatan kesehatan bergambar adalah upaya paling murah dan efektif untuk menurunkan prevalensi perokok pemula," katanya.

Deputi Direktur Regional International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union) Tara Singh Bam mengatakan tujuan utama peringatan kesehatan bergambar adalah membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan bahan rokok.

"Juga untuk mendenormalisasi produk tembakau, melindungi anak dan remaja dari godaan menjadi perokok pemula dan meyakinkan perokok untuk berhenti merokok," jelasnya.

Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia Dina Kania mengatakan peringatan kesehatan bergambar di negara lain banyak yang sangat bagus.

Bahkan 10 besar terbaik berasal dari negara berkembang, salah satunya Timor Leste dengan ukuran 92,5 persen.

"Padahal beberapa tahun yang lalu mereka masih jauh tertinggal. Kini sudah jauh lebih maju dari Indonesia," katanya.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar