Petani lada keluhkan rendahnya harga jual

id lada,petani lada,harga lada,ukm,petani indonesia,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, jembatan ampera, w

Arsip- Produksi komoditas lada. (ANTARA)

Rejang Lebong (ANTARA News Sumsel) - Kalangan petani lada di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat ini mengeluhkan rendahnya harga jual di tingkat petani sejak setahun belakangan.

"Harga lada ini mengalami penurunan sejak 2018 lalu, lada hitam saat ini di tingkat petani berkisar Rp22.000 sampai Rp25.000 per kg, harga ini turun drastis dibandingkan tahun 2017 berkisar Rp60.000 sampai Rp80.000 per kg," kata Anom (55) salah seorang petani lada di Kecamatan Bermani Ulu Raya, Sabtu.

Selain harga jual lada hitam yang mengalami penurunan, hal yang sama juga terjadi pada penjualan lada putih, di mana saat ini dihargai pembeli paling tinggi Rp60.000 per kg, harga ini turun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp120.000 per kg.

Anjloknya harga jual lada hitam dan lada putih tersebut sangat mereka keluhkan, mengingat saat ini sejumlah bahan kebutuhan pokok maupun obat-obatan pertanian justeru mengalami kenaikan.

Hal yang sama juga diutarakan Bambang, petani lada asal Kabupaten Kepahiang dan berharap harga jual lada ini kembali normal sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup dari hasil berkebun lada.

"Kami berharap harganya bisa naik lagi, karena kalau dipikir orang yang membutuhkan lada untuk bumbu dapur ini semakin banyak, bahkan ini juga salah satu bahan ekspor kita tetapi mengapa harga jualnya sangat rendah," ujarnya dengan nada bertanya.

Akibat rendahnya harga jual lada ini, banyak petani lada yang memangkas tanamannya dan menggantinya dengan jenis tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan seperti kopi atau jenis tanaman sayuran lainnya.

Sementara itu, Ateng salah seorang pedagang penampung hasil bumi di Kota Curup, menjelaskan harga jual lada hitam dan lada putih mengalami penurunan sejak awal 2018 lalu dan sampai kini belum berubah.

Sejauh ini dirinya belum mengetahui penyebab anjloknya salah satu komoditas yang banyak dihasilkan daerah itu.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar